Oleh : M. Ridwan

Judul tulisan di atas merupakan pertanyaan seorang rekan kepada penulis. Agaknya, ia cukup bingung dengan adanya beberapa istilah terkait dengan kajian ini. Menurutnya, ia lebih suka menggunakan istilah ekonomi Islam karena lebih menunjukkan simbol Islam. Penggunaan istilah syariah menurutnya akan membawa orang kepada pemahaman berupa penerapan syariat Islam yang bagi sebagian orang masih dianggap sesuatu yang dikhawatirkan.

Namun, rekan penulis yang lain justru lebih menyukai istilah ekonomi syariah, karena menurutnya, syariah itu sudah pasti Islam, sedangakan penggunaan istilah Islam belum tentu sepenuhnya menerapkan syariah. Dengan demikian, penyebutan ekonomi syariah lebih cocok dan unik bahkan bisa memperbaiki imej sebagian kalangan yang selama ini menganggap syariah hanya berkaitan dengan hukum potong tangan, rajam, qisas, dan sebagainya, demikian argumentasinya dengan cukup meyakinkan.

Lalu, mana yang benar..?
Tentu kita tidak akan mengklaim bahwa satu istilah lebih superior dari yang lain. Kedua istilah ini sebenarnya dapat dipergunakan bergantian tanpa mereduksi makna istilah lainnya. Misalnya, bagi Anda yang lebih cendrung menggunakan istilah ekonomi Islam, tentu Anda tidak bermaksud untuk menafikan peran dari adanya prinsip-prinsip syariah dalam ekonomi, bukan..? Demikian pula, bagi Anda yang lebih suka menggunakan istilah ekonomi syariah pastilah yang Anda maksud adalah syariat Islam dalam bidang muamalah dan bukan syarait dari agama lain, bukan,?, 

Hal yang keliru, adalah jika masing-masing pihak mengklaim bahwa istilah yang mereka gunakan lebih tepat dan cocok sehingga merendahkan kelompok yang menggunakan istilah lain. Kalau ini terjadi, maka esensi dari syariah sendiri yaitu upaya untuk mencapai maqashid syaraiah (tujuan-tujuan syariah) tidak akan tercapai, dan tentu saja hal ini akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan Islam secara keseluruhan yaitu menyebarkan nilai-nilai ilahiah dalam segenap aspek kehidupan manusia.

Kalau kita lihat dari kecendurngan penggunaan istilah di atas, maka Indonesia lebih menyukai pemakaian istilah ekonomi syariah. Makanya yang muncul adalah perbankan syariah, asuransi syariah, gadai syariah, bahkan lembaga-lembaga lain yang tidak terkait dengan lembaga keuangan.

Berbeda dengan Indonesia, negara-negara lain agaknya lebih menyukai penggunaan istilah ekonomi Islam, sehingga yang muncul adalah lembaga keuangan Islam (Islamic Finance, Islamic Banking, Islam Insurance), dan lain-lain.

Uniknya, dalam penggunaan bahasa Inggeris, terkait dengan ekonomi Islam lebih sering digunakan istilah Islamic Economics, Islamic Banking, Islamic Finance, dsb, namun untuk kesesuaian syariah lembaga-lembaga keuangan Islam dipakai istilah Shariah Compliance (kesesuaian syariah) dan bukan Islamic Compliance. Bank Indonesia juga menggunakan loga IB  (Islamic Banking)  untuk membedakan loga perbankan Islam dengan perbankan konvensional.

Dengan demikian, penggunaan istilah ekonomi syariah atau perbankan syariah agaknya lebih merupakan istilah Indonesia yang menekankan pada aspek legalalistik (fikih muamalah) dalam lembaga keuangan Islam. Di Barat penggunaan istilah ini identik dengan sebutan legal economics (ekonomi legalistik).

Bagi kalangan akademis, setidaknya tidak perlu bingung dengan kedua istilah ini. Hal yang terbaik adalah konsistensi penggunaan kedua istilah ini dalam penulisan karya-karya tulis. Jadi, misalnya, di awal tulisan Anda menggunakan istilah ekonomi Islam atau lembaga keuangan Islam, maka demikian juga istilah yang harus Anda gunakan untuk tulisan selanjutnya.

Oke…The Choice is Yours….