Oleh : M. Ridwan

 Adakah orang yang menyangkal pentingnya uang?. Agaknya, sulit menemukan orangnya. Perekonomian akan kesulitan berjalan tanpa uang. ”Money is evrything” demikian ungkapan yang sering terdengar. Perannya sebagai pengganti sistem barter (pertukaran) dalam kegiatan manusia telah diakui dari masa ke masa. Tak heran, kalau keinginan memiliki uang senantiasa berada pada urutan teratas kebutuhan sebagian besar manusia. Bahkan, indikator sejahteranya individu atau masyarakat banyak didasarkan dari kepemilikannya terhadap benda yang bernama uang ini.

Ekonomi konvensional maupun ekonomi syariah memiliki kesamaan dalam memandang urgensi uang, tetapi tidak menafikan adanya perbedaan keduanya dalam menyikapi uang. Perbedaan mendasar terutama berkaitan dengan apakah uang itu merupakan stock concept atau flow concept. Ekonomi konvensional mengakui uang sebagai stock concept yang berarti uang adalah barang simpanan dan pemiliknya tidak punya kewajiban untuk mengalirkannya ke publik. Oleh karena itu dalam kajian ekonomi konvensional seorang pemilik uang boleh saja menggunakan atau tidak menggunakan uang yang telah diperolehnya. Penulis sering konversi ke dalam pernyataan “aku berusaha, aku dapat uang, maka aku bebas untuk mengalirkannya atau tidak, walaupun ada paksaan dari orang lain untuk melakukannya”. Stock concept sangat menekankan sikap individualis dalam kepemilikan uang.

 Flow concept-nya ekonomi syariah menegaskan 2 (dua) hal. Pertama: uang hanya memainkan fungsi  utama sebagai alat tukar (medium of exchange) saja. Kedua: uang harus dikucurkan dan tidak boleh diam (idle) tanpa dimanfaatkan terutama ke sektor riil.

Sebagaimana diketahui bahwa dari fungsi utama uang sebagai alat tukar dapat pula diturunkan fungsi-fungsi yang lain seperti uang sebagai pembakuan nilai (standard of value),penyimpan kekayan (store of value),satuan penghitungan (unit of account)  danpembakuan pembayaran tangguh(standard of defferred payment). Mata uang manapun niscaya akan berfungsi seperti ini. Namun, dalam sistem konvensional yang cendrung kapitalis, uang tidak hanya sebagai alat tukar yang sah (legal tender) melainkan juga sebagai komoditas. Dengan demikian, uang juga dapat diperjualbelikan atau disewakan (leasing). Dengan demikian, uang bisa beranak, berkembang dan bahkan “wajib” berkembang. Si pemilik tidak mau tahu apakah si peminjam atau pengelola uangnya itu untung atau rugi. Si pemilik uang hanya mengetahui bahwa ketika ia mengeluarkan sejumlah uang dari pundi kekayaannya, uang itu harus segera menjadi lebih banyak walaupun tidak terkait kepada sektor riil.

Ekonomi syariah menegaskan bahwa benda apapun yang berfungsi sebagai uang, maka fungsinya utamanya hanya sebagai alat tukar (medium of exchange). Ia bukan komoditas yang dapat dijualbelikan. Uang bukan barang konsumsi atau ia tidak diperlukan untuk dirinya sendiri. Uang baru dianggap perlu ketika seseorang berkeinginan untuk membeli barang yang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam ekonomi klasik disebut uang tidak memberi kegunaan langsung (direct utility fuction).

Ekonom Islam yang menyatakan pendapat di atas adalah Al-Ghazali (1058- 1111 M). Saat itu uang yang digunakan adalah emas dan perak. Menurutnya, kedua logam ini hanyalah logam biasa yang di dalam substansinya (zatnya itu sendiri) tidak ada manfaatnya atau tujuan-tujuaannya. Al-Ghazali menyatakan bahwa “uang ibarat cermin yang tidak memiliki warna namun ia bisa merefleksikan semua warna.

Selain Al-Ghazali, ulama dan ilmuwan sosial Islam yang menyepakati fungsi uang sebagai alat tukar saja misalnya Ibnu Taymiyyah (1263-1328 M), Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Ar-Raghib al-Ashbahani, Ibnu Khaldun, al-Al-Maqrizi dan Ibnu Abidin. Mereka dengan dengan jelas menandaskan bahwa fungsi pokok uang sebagai alat tukar.  Bahkan Ibnu Qayyim mengecam sistem ekonomi yang menjadikan fulus  (mata uang logam pengganti emas dan perak yang terbuat dari kuningan atau tembaga) sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan dengan kelebihan dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Seharusnya mata uang itu bersifat tetap, nilainya tidak naik dan turun, demikian menurutnya.

Inilah yang menjadi akar permasalahan ekonomi dunia dari masa ke masa termasuk Indonesia. Si pemilik uang merasa tidak punya kewajiban mengalirkan uangnya ke masyarakat. Kita tentu akrab dengan istilah efek mengucur ke bawah (tricle down effect) yang dianut sistem kapitalis yang terimbas pula di Indonesia selama ini. Konsep ini berasumsi bahwa kemakmuran akan otomatis terjadi apabila para pemilik usaha besar atau konglomerat mendapat bantuan sehingga menjadi kekuatan ekonomi raksasa. setelah kuat, kekayaan itu akan mengucur ke bawah sehingga keadilan merata dapat diwujudkan. Ibarat air di dalam gelas, maka apabila gelas telah penuh ia akan melimpah dan tumpah ke bawah. Sayangnya, dalam praktek, tidak demikian. Para konglomerat yang semakin kaya ternyata lebih memilih terus membesarkan “gelasnya” sehingga hampir tidak ada limpahan buat masyarakat di bawahnya. Belum lagi feomena banyaknya uang yang justru terbang ke luar negeri (capital flight) yang terjadi secara sistematis.

            Berkaitan dengan uang yang diam (idle), maka ekonomi syariah memandangnya sebagai sebuah tindakan yang dapat “membusukkan” uang. Ini tidak berarti bahwa ekonomi syariah melarang kepemilikan uang. Uang boleh dan harus dimiliki namun harus dimanfaatkan untuk pemberdayaan orang lain. Al-Ghazali -sebagaimana dikutip oleh Adiwarman A. Karim- bahkan pernah mengecam orang yang menimbun uang dan mengecapnya sebagai penjahat. Pada jamannya, Al-Ghazali menyaksikan fenomena tersebut di sekitarnya termasuk orang yang melebur uang emas menjadi perhiasan. Untuk tindakan melebur itu, beliau mengatakan bahwa pelakunya adalah orang yang tidak bersyukur kepada Pencipta bahkan lebih rendah dari menimbun uang. Menimbun uang berarti menarik uang sementara dari peredaran, sedangkan meleburnya berarti menarik uang selamanya dari peredaran.

            Kalau kita kaitkan dengan teori ekonomi moneter modern, menimbun uang berarti memperlambat perputaran uang (velocity of circulation of money) karena memperkecil transaksi dan membuat perekonomian lesu. Sedangkan melebur uang artinya mengurangi jumlah penawaran uang (money supply) yang dibutuhkan dalam transaksi.

Lalu, bagaimana dengan kita saat ini ?. Analisis penulis bahwa konsep uang sebagai stock concept masih kuat dalam mainset masyarakat kita. Artinya, banyak masyarakat yang menganggap bahwa uang bisa berkembang tanpa resiko dan tidak ada keharusan mengucurkannya kepada orang lain. Agaknya, ini yang mendasari munculnya statement yang cukup akrab di telinga kita “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”, ataupun statement seperti “Ini adalah uang yang kuperoleh dari hasil kerja kerasku, lalu mengapa pula orang lain berhak atas kekayaanku..?”.

Lalu siapa yang mengemban misi ini ?. Disinilah peran lembaga keuangan syariah yang harus dominan. Selain lembaga keuangan syariah yang menempati posisi terdepan mengusung konsep flow concept, maka semua orang pun dapat melakukannya. Saatnya pula mengatakan “aku harus berusaha, bila berhasil memperoleh uang, maka aku wajib menyalurkannya kepada orang lain, walaupun tidak ada yang memaksa”.

Ingat ! uang juga bisa “membusuk” dan kita bisa kehilangan keberkahan memilikinya. Semoga tidak.  (Penulis adalah Dosen Ekonomi Islam dan Trainer Iqtishad Consulting Jakarta)