Oleh : M. Ridwan

Judul yang merupakan pertanyaan di atas layak diajukan. Bagi Anda yang mungkin selama ini menggeluti bidang ekonomi baik akademisi maupun praktisi bisnis atau sekedar pengamat, mungkin bertanya apa yang salah dengan konsep ekonomi kita selama ini. Dengan “boomingnya” ekonomi syariah saat ini keberadaan konsep ekonomi konvensionalpun sepertinya memiliki “lawan tanding” yang cukup dikhawatirkan🙂. Dimulai dari bidang perbankan dan keuangan, selanjutnya merambah ke aktfitas bisnis seprti hotel dan supermaket, tiba-tiba kita menjadi akrab dengan sebutan “supermaket syariah” maupun “hotel syariah”. Jangan heran kalau Anda juga kelak akan menemukan label syariah dalam berbagai aktfitas ekonomi lainnya.

Perkembangan yang begitu pesat ini merupakan hasil kerja keras semua pihak baik kalangan ulama, akademisi maupun praktisi selama puluhan tahun. Walaupun agak terlambat, namun perkembangan ekonomi syariah di Indonesia menunjukkan gerak menggembirakan. Seperti halnya negara-negara Eropah dan Amerika Serikat, ekonomi syariah juga berhasil mengambil simpati banyak kalangan termasuk masyarakat non-muslim Indonesia.

Kenyataan ini cukup menarik,karena ekonomi syariah tidak bersifat eksklusif. Walaupun konsepnya ditarik dari ajaran Alquran dan hadis yang notabene milik umat Islam, namun ekonomi syariah memiliki misi mensejahterakan manusia bumi ini seluruhnya. Dengan demikian tidak perlu ditakuti.

Walaupun demikian, tulisan ini tentu tidak menyangkal adanya kelompok yang menentang atau menolak konsep ekonomi syariah. Alasan mereka biasanya dikaitkan dengan keabsahan ekonomi syariah sebagai sebuah ilmu atau sistem ekonomi. Bagi penulis, penyebab hal ini umumnya dikarenakan minimnya pengetahuan tentang konsep ekonomi syariah secara utuh dan sikap ”malas” untuk mempertanyakan konsep ekonomi konvensional yang selama ini kebenarannya sudah dianggap ”taken for granted”.

Padahal, jika diamati secara mendalam, banyak konsep ekonomi konvensional (ada yang menyebutnya dengan ekonomi neoklasik) yang layak dipertanyakan. Dalam tulisan singkat ini penulis hanya mengemukan beberapa diantaranya yaitu :

1. Konsep tentang sejarah ekonomi dunia

 Dalam literatur ilmu ekonomi bisanya disebutkan bahwa sejarah ekonomi dunia mulai lahir di Barat dengan ditandai oleh karya Adam Smith yang berjudul ”The Wealth of Nations) pada tahun 1776 M. Sebelumnya, tidak banyak tercatat, kecuali gagasan parsial dan sederhana dari para pemikir Yunani-Romawi kuno seperti Aristoteles, Plato, Cicero atau Xenophon (2-3 SM) serta St. Thomas Aquinas pada 15 abad kemudian. Pemikiran mereka terkait dengan praktek pembungaan uang . Selanjutya sejarah ekonomi Merkantilisme dan Phisiokrat pada abad 16-18 M.

Terdapat kejanggalan berupa loncatan waktu ribuan tahun dari masa Yunani langsung ke abad pertengahan. Para penulis Barat biasanya mengemukan bahwa sebelum abad pertengahan terjadi apa yang disebut ”dark age” atau masa kegelapan Barat dan tidak terdapat pemikiran ekonomi apapun.

Padahal ketika Barat mengalami masa kegelapan, justru ada daerah lain di belahan dunia ini yang justru mengalami masa keemasan tak terkecuali adanya juga konsep-konsep ekonomi yang gemilang. Itulah dunia Islam. Para pemikir-pemikir ekonomi Islam telah berhasil mengggagas konsep-konsep ekonomi yang ternyata terbukti menjadi inspirasi bahkan dikutip oleh para pemikir ekonomi Barat beberapa ratus kemudian. Sebut saja Al-Ghazali (1111 M) dengan konsep tentang uang, Ibn Taimiyyah (1328 M) dengan konsep harga dan mekanisme harga atau Ibn Khaldun (1404 M) dengan konsep pembagian kerja dan siklus perdagangan.

Lalu kalau demikian adanya, maka ketika kita mempelajari sejarah ekonomi selama ini, maka yang kita pelajari bukanlah sejarah ekonomi dunia tetapi hanya sejarah ekonomi Barat. Bukanlah demikian ?

2. Konsep tentang Homo Economicus

Ilmu ekonomi konvensional menyebutkan manusia adalah homo economicus yang berarti  bahwa manusia dianggap sebagai makhluk yang sangat rasional. Dalam model ini manusia dianggap sangat rasional, mementingkan kepentingan dirinya sendiri (self-interest) dan memiliki pengetahuan atau informasi lengkap dalam menentukan pilihan. Homo-economicus dalam perilakunya selalu akan memaksimalkan manfaat yang dapat diperolehnya. Jika ia seorang konsumen maka ia akan memaksimalkan utility, jika ia seorang produsen ia akan memaksimalkan keuntungan dan jika ia seorang politikus ia akan memaksimalkan kekuasaannya. Benarkah demikian? Pengamatan memperlihatkan bahwa, tindakan dan perilaku manusia dalam keseharian kadang jauh dari asumsi ini. Misalnya dalam hal memberikan sedekah atau donasi, homo economicus tidak akan melakukan ini, ia lebih suka memegang uangnya tersebut karena dengan mengeluarkan sedekah ia tidak mendapatkan apa-apa. Selain itu model ini juga gagal menjelaskan mengapa manusia bersedia mati sebagai pahlawan perang, mengapa ada yang mau bekerja sebagai relawan atau bagaimana seseorang mendapatkan kepuasan hanya dari menikmati keindahan alam.

Anehnya, asumsi homo economicus terus dipakai dalam ilmu ekonomi konvensional sehingga yang muncul adalah manusia-manusia yang materialistis, hedonis dan rakus. Semua itu dianggap kewajaran karena merupakan sifat alamiah manusia.

3. Konsep time value of money

Konsep ini merupakan landasan utama yang melahirkan konsep tentang bunga yang  telah “berhasil” memporak-porandakan ekonomi dunia selama ini. Konsep ini menyatakan bahwa nilai uang di masa kini akan lebih berharga dibandingkan di masa mendatang. Terdapat sebuah positive time preference. Seiring dengan berjalannya waktu maka uang harus ditingkatkan nilai nominalnya agar nilai riilnya tetap sama. Jadi uang harus terus bertambah dan bertambah.

Konsep ini jelas menyalahi kenyataan. Bukankah tak seorangpun yang dapat meramalkan apa yang terjadi di masa depan ?. Siapakah yang bisa memastikan bahwa pemanfaatan uang itu pasti menghasilkan keuntungan ?. Dengan kata lain, kemungkinan dapat saja terjadi positive, zero, atau negative time preference. Hasil pemanfaatan uang baru dapat diketahi setelah uang itu digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif.

Jelas bahwa selama ini ilmu ekonomi telah dibangun berdasarkan landasan yang salah. Sayangnya, paradigma kita mungkin telah lama dipengaruhi konsep-konsep tersebut.  Demikianpun, dari pengalaman penulis, ekonomi syariah juga tidak menafikan penggunaan alat-alat analisis ekonomi yang selama ini digunakan ekonom konvensional. [ ]

Semoga bermanfaat. Sampai bertemu di tulisan berikutnya.

Wallahu a’lam,