Oleh : M. Ridwan

no previewDalam perkembangan ekonomi dan keuangan Islam, kita melihat cukup banyak kritikan yang diberikan berbagai pihak baik berhubungan dengan konsep maupun praktiknya. Kritikan-kritikan tersebut ada yang bernada simpatik dan konstrukrif untuk mengembangkan kajian ekonomi Islam ke arah yang lebih baik dan sesuai dengan idealisme penggagas awal ekonomi Islam namun juga, tidak jarang ditemukan berbagai kritikan bernada tidak simpatik bahkan bisa dikategorikan sebagai gerakan anti ekonomi Islam. Kelompok kedua ini biasanya selalu menyalahkan apapun yang terkait dengan ekonomi Islam terutama produk-produk ekonomi Islam khususnya perbankan Islam.

 Penulis tidak akan menyebut siapa yang termasuk ke dalam kelompok gerakan anti ekonomi Islam ini. Silahkan saja pembaca googling di internet atau melihat video-video di Youtube. Intinya gerakan ini berupaya untuk ”membabat” habis keberadaan ekonomi Islam khususnya keberadaan perbankan Islam.  Menurut mereka, perbankan Islam adalah institusi yang tidak syar’i karena bukan merupakan produk dari sejarah Islam. Budaya Baratlah yang menciptakan institusi ini. Perbankan adalah lembaga ribawi yang harus dihilangkan dan bankir adalah profesi yang sangat tidak terhormat karena menjadi biang kerok kerusakan dalam sejarah peradaban manusia termasuk juga perbankan dan bankir Islam. Lho..?

 Penulis cukup salut atas kritikan mereka yang terlihat melawan arus pemikiran arus utama ekonomi Islam. Kritikan-kritian tersebut tentu sangat dibutuhkan sebagai bahan intropeksi bagi siapa saja yang mengaku sebagai pegiat ekonomi Islam. Dengan demikian, tidak harus disikapi dengan sikap antipati apalagi menebarkan permusuhan. Namun, penulis juga merasa bertanggung jawab untuk sumbang pemikiran melihat fenomena ini. Setidaknya juga untuk mencoba ”meluruskan” beberapa kekeliruan dari argumentasi kelompok  ini. Hal ini dikarenakan ada kebingungan kususnya dari banyak kalangan masyarakat yang mempertanyakan apakah perbankan Islam itu benar-benar Islami?. Benarkah perbankan Islam itu tidak syar’i?. Pertanyaan-pertanyaan ini pada dasarnya sudah menjadi kajian penggagas ekonomi Islam puluhan tahun lalu ketika ekonomi Islam pertama kali muncul sehingga membincangkannya saat ini sepertinya sudah ”out of date”. Namun demikian, untuk kembali menyegarkan pemikiran kita terhadap kajian ekonomi Islam maka tidak salahnya kita kembali mengkajinya. (bersambung)