Oleh: M. Ridwan

Dalam berbagai level pelatihan yang diadakan Iqtishad Consulting, cukup banyak pengalaman menarik dari peserta. Dengan latar belakang yang berbeda, peserta terlihat sangat antusias mengikuti pelatihan. Bahkan, banyak peserta berasal dari kalangan non Islam yang mengikuti pelatihan fikih muamalah dan menunjukkan minat yang luar biasa terhadap kajian ini.

Dikarenakan latar belakang yang berbeda, maka terkadang ada peserta yang belum terbiasa dengan berbagai istilah yang digunakan dalam fikih muamalah, namun ada juga peserta yang cukup mahir dengan kajian ini. Menariknya, peserta yang pernah mempelajari fikih muamalah baik sewaktu di pesantren atau perguruan tinggi Islam, juga menyatakan kekaguman sekaligus keheranan mereka bahwa fikih muamalah ternyata bisa dipraktikkan di era modern ini. Bahkan bentuknya semakin sophisticated (canggih/modern) dan melampuai ekspektasi mereka ketika dahulu mengkaji fikih muamalah di bangku pesnatren atau perguruan tinggi. Bagi mereka, kajian fikih muamalah kontemporer  telah menjadi oase di tengah padang pasir yang memenuhi dahaga akan harapan sebuah implementasi nilai-nilai Islam bidang ekonomi sepertinya mustahil dipenuhi.

Dulu saya-pun seperti itu. Ketika belajar kitab-kitab klasik khususnya pada bab muamalah seperti jual beli, gadai, syirkah, dll, terkadang ada pikiran berkecamuk, apakah kajian ini masih realistis diterapkan atau kalaupun diterapkan gimana implementasinya.  

Alhamdulillah, jawaban terhadap berkecamuknya pikiran tersebut ternyata ada dengan kehadiran lembaga keuangan syariah yang sampai saat ini terus berjuang keras mensyariahkan praktik bisnis mereka. Berbagai istilah muamalah yang dulunya seperti terpasung dalam kitab-kitab klasik telah berhasil di’bangun’kan kembali dari tidur panjang mereka.

Dalam pelatihan yang diadakan Iqtishad Consulting, hampir semua peserta menunjukkan kekaguman mendalam bahwa kajian muamalah ternyata sangat modern dan aplikatif. Ini menepis anggapan sebagian orang bahwa Islam hanya bisa berkutat pada aspek ibadah mahdah semata.  Kajian muamalah ternyata begitu modern dan dapat menjawab berbagai masalah bisnis kontemporer. Menurut mereka, kajian muamalah itu mengasyikkan, menantang dan mengejutkan, Sebut saja, Bu Ani, seorang notaris yang non Islam, terkaget-kaget melihat menemukan fakta bahwa al-Quran  ternyata jauh-jauh hari telah mengatur dan menjelaskan signifikansi pencatatan dalam transaksi bisnis. Baginya, ini merupakan sebuah bentuk legitimisasi profesi notaris yang telah ia geluti selama puluhan tahun.

Seorang peserta dari praktisi pegadaiaan juga menujukkan kekaguman bahwa ternyata al-Quran juga mengakomodir berbagai kemungkinan jenis gadai. Penyebutan kata gadai surat al-Baqarah ayat 283  Quran ternyata menggunaan kata “Rihan” yang berbentuk plural sehingga menunjukkan bahwa berbagai jenis gadai yang dipraktikkan selama ini juga telah diakomodir oleh al-Quran. Masih banyak testimoi lainnya yang tak bisa penulis ungkapkan satu persatu di tulisan ini.

Tak heran kalau ada peserta yang mengibaratkan fikih muamalah seperti lautan yang tak bertepi. Semakin dijelajahi dan digali maka semakin terlihat khasanah dan keindahannya dan semakin terlihat pula bahwa selama ini ini kita mungkin telah melupakan kajian ini dari wacana keberagamaan, entah ini faktor disengaja atau tidak. Oleh karena itu, keberadaan lembaga keuangan syariah yang telah mencoba mempraktikkan fikih muamalah dalam bisnis mereka harus didukung dengan sepenuhnya.

Bagi kami tim Iqtishad, ada sebuah kesmipulan yang pantas diketahui masyarakat bahwa para praktisi keuangan syariah memang benar-benar berupaya untuk mempraktikkan ajaran Islam dengan sepenuhnya di dalam lembaga mereka. Mereka takut kalau tergelincir ke dalam praktik yang diharamkan Allah. Mereka ingin mendapatkan harta yang halal dalam profesi yang mereka geluti sekaligus juga ingin membantu masyarakat mendapatkan harta yang halal. Tentu saja,baik  mereka dan kita semua juga ingin mendapatkan surga dengan mempraktikkan bisnis yang sesuai dengan syaraiah.

Seyogyanya, ketika kalangan praktisi syariah telah memulai mengimplementasikan fikih muamalah dan berjuang keras mempertahankan nilai-nilai syariah tersebut kedalam lembaga mereka, maka kalangan masyarakat lain sudah seharusnya juga meniru upaya ini, yaitu menggunakan prinsip-prinsip syariah yang terkadang dalam fikih muamalah kedalam praktik-praktik keseharian kita. Insyallah, sebuah dunia yang bebas dari eksploitasi, dunia yang halal, dunia yang diberkahi akan segera terwujud. Amin.