Oleh : M. Ridwan

Tak diragukan lagi, harapan sebagian besar komunitas muslim di dunia terhadap realisasi praktik ekonomi Islam pasti lebih dominan ditujukan kepada lembaga keuangan khususnya perbankan Islam. Ketika awal munculnya 3 dekade lalu, lembaga keuangan ini diharapkan bisa menjadi penghibur lara umat Islam yang telah begitu lama mendambakan implementasi nilai-nilai syariah dalam kehiduan sehari-hari.  Kenapa dipilih bidang keuangan? Jawabannya tidak lain bahwa bidang inilah yang memainkan peran penting bagi terciptanya tatanan ekonomi dunia yang berkeadilan. Selama ini, lembaga keuangan ribawi dianggap sebagai biang kerok seluruh kerusakan ekonomi di dunia ini dan merembet kepada bidang-bidang lainnya. Tak heran kalau, sampai saat ini, ada kalangan yang terus  menunjukkan sikap “permusuhan” instusi perbankan termasuk perbankan Islam.

Menujukkan sikap “permusuhan” terhadap sistem ribawi saya kira merupakan kewajiban kita semua,  tetapi menujukkan sikap permusuhan dengan perbankan Islam saya kira sangat tidak tepat. Saya cukup memaklumi argumen dari kalangan yang habis-habisan mengkritik perbankan Islam. Ada beberapa sisi dari argumen mereka yang bisa menjadi bahan otokritik, tapi to tell you the truth, kebanyakan  kritkan tersebut juga justru tidak proorsional dan cendrung tendensius.

Tapi, merubah musuh menjadi teman bukankah lebih menunjukkan kebesaran jiwa?. Hal ini setidaknya telah dilakukan oleh pegiat ekonomi syariah saat ini yang mencoba menginjeksi nilai-nilai Islam ke dalam sistem keuangan yang ada. Saya sering bertemu dengan kalangan praktisi keuangan yang sangat antusias mengajak rekan-rekan mereka untuk hijrah dari sistem ribawi ke sistem keuangan qurani. Mereka ini tak jarang bekerja ekstra keras setiap harinya dibandingkan rekan-rekan sejawat mereka sesama dari praktisi keuangan konvensional. Saya menyebut mereka ini satria ekonomi Islam sejati (Islamic economic warrior)..!!. Lalu, apakah sikap para warrior ini hanya profit oriented? hanya didasarkan motif mencari keuntungan semata?, saya kira itu penilaian yang terlalu dangkal dan naif juga sih..

Sudah deh, satu orang musuh itu sudah teramat banyak, seribu sahabat sebenarnya justru masih kurang banyak. Pepatah ini sering dinasehatkan oleh tua kita dahulu. Intinya, kita harus harus duduk bersama, urung rembuk memikirkan masalah umat ini. Saya kira energi kita seharusnya digunakan untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang ada di negeri ini dan bukan mengatasi masalah dengan masalah🙂

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk terlibat dalam proses solving the problems ini?. Hal utama yang harus kita lakukan adalah mencoba mencari titik temu di antara kita. Menariknya, kita sebenarnya memiliki titik temu yang sama, atau bahasa kerennya kita memiliki mimpi yang sama (we have the same dreams) dalam melihat keberadaan ekonomi Islam dan lembaga keuangan Islam.

Apakah mimpi tersebut ?

  1. Kalangan masyarakat/publik biasanya memiliki impian bahwa lembaga keuangan syariah benar-benar menerapkan syariah dalam praktik mereka (shariah compliance). Lembaga ini juga harus bisa menggerakkan sektor riil dan proaktif dalam upaya pengentasan kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan secara berkelanjutan.
  2. Bagi para nasabah biasanya punya impian bahwa lembaga keuangan yang mereka percayakan sebagai mitra setidaknya bisa memberikan layanan yang murah, cepat, aman dan fasilitas lengkap. Mereka juga ingin lembaga keuangan syariah yang mereka pilih juga peduli dengan dimensi sosial, dan tentu saja sesuai dengan syariah supaya tidak terjerumus ke dalam kegiatan memakan harta secara haram.
  3. Kalangan pemerintah/regulator biasanya sangat berkeinginan supaya lembaga keuangan Islam juga bisa pro kepada sektor riil dan berkontribusi bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, output apapun dari lembaga keuangan Islam harus linier dengan maqasid shariah (tujuan syariah). Untuk itu pula, sesama lembaga keuangan diharapkan bisa saling sinerji.
  4. Lembaga keuangan Islam sendiri biasanya punya impian bisa mencapai target profit yang tinggi, bisa menjadi market leader, risiko terjaga dan tentu saja kesesuaian syariah dalam semua aspek praktik mereka.

Dari semua mimpi-mimpi yang ada, setidaknya ada 3 (tiga) kesamaan mimpi di antara kita memyikapi keberadaan lembaga keuangan Islam yaitu :

  1. Adanya kesesuaian syariah dalam semua praktik yang dilakukan.
  2. Tercapainya pertumbuhan ekonomi, dan
  3. Tercapainya kesejahteraan sosial yang ditandai dengan keberpihakan terhadap sektor riil yang serius.

It is clear, isn’t it ? cukup jelas sudah. Itulah mimpi bersama kita. Mimpi yang sama namun memang tidak menutup kemungkinan berbeda gerak dan strategi. Itu lumrah saja. Seyogyanya, setelah kesamaan mimpi-mimpi tersebut terlihat, maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah saling pengertian dan mendukung. Saling menghargai dan tentu saja saling mengingatkan dibudayakan antara sesama kita. Di atas segalanya, bermimi saja tentu tidak cukup, yang dibutuhkan justru adalah segera bangun dan bergerak cepat. Wa tawashau bilhaq wa tawashau bil al-shabr…