Abraham Samad (ketua KPK) punya impian menarik bahwa 32 tahun dari sekarang yaitu bertepatan dengan HUT RI ke-100 korupsi sudah hilang dari Indonesia. Dalam impiannya, saat itu  korupsi sudah menjadi barang langka di negara ini  sehingga anak-anak negeri ini saat itu bertanya,”Korupsi itu apa sih.?”. Sebuah impian yang saya kira tidak terlalu muluk-muluk dan begitulah selayaknya sikap yang harus dimiliki seorang pimpinan lembaga bergengsi dan  menjadi harapan masyarakat untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik, bersih dan diridhai Tuhan, tentunya.

Selain Abraham, saya teringat pada buku karya George Friedman dengan judul The Next 100 Years: A Forecast for The 21st Century. Buku ini sangat menarik dimana pengarang mencoba meramal masa depan negara-negara di dunia ini 100 tahun ke depan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, negara manakah yang akan menjadi adikuasa 100 tahun lagi, dan seperti apa situasi politik ekonomi dunia saat itu, terjawab dalam buku itu. Menariknya, dalam ramalannya, saat itu Amerika Serikat sudah tidak lagi menjadi negara adikuasa karena berbagai krisis yang melanda. Negara yang berpotensi besar menjadi negara kuat justru adalah Turki.

Pagi ini, entah kenapa, impian yang sama juga berkecamuk di benak ini terkait dengan pertanyaan seperti apa Indonesia 100 tahun ke depan dengan keberadaan ekonomi syariah. Impian -yang saya yakin- pasti dimiliki oleh semua pegiat ekonomi syariah khususnya di Indonesia.  Namun, tentu saja, impian saya tidak seperti forecasting ala Friedman yang disertai berbagai analisis datif, impian model saya ini sebenarnya lebih dominan sebagai sebuah harapan, yang realisasinya pun belum menemukan bentuk konkrit secara sempurna, tapi saya yakin ini juga bukan sebuah utopia semata. J.

Dalam impian saya, 100 tahun ke depan –tepatnya tahun 2112-, ekonomi syariah sudah membumi di Indonesia. Ketika itu masyarakat bisa jadi justru akan bertanya, “Apa sih bunga bank itu?”, “apakah bank dengan bunga bisa diterima masyarakat?”, dll. Sistem perbankan ganda (dual banking) mungkin masih ada, tapi market share perbankan konvensional hanya menempati 4-5% dari total keseluruhan perbankan yang ada karena bagian terbesarnya ternyata dimiliki oleh perbankan syariah. Bankir saat itu identik dengan syariah. Jadi kondisinya sudah terbalik dibandingkan tahun 2012 ini, lho, J .

Produk-produk perbankan syariah ketika itu juga bervariasi dan sudah dominan menerapkan porsi bagi hasil, dibandingkan dengan produk fix return .  Hal ini dikarenakan adanya sikap jujur dan transparan yang sudah membudaya di masyarakat sehingga produk bagi hasil perbankan syariah bisa maksimal digunakan tanpa ada kekhawatiran moral hazard atau asymmetric information bagi perbankan. Bank-bank syariah juga sangat pro kepada sektor riil. Pembiayaan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan sudah biasa dilakukan dengan produk pembiayaan yang inovatif, kreatif dan tentu saja profit bagi semua pihak. Perbankan syariah sudah benar-benar murni syariah, tidak hanya dari sisi formalitas produk namun juga substansinya benar-benar dapat dipahami dan dimanifestasikan secara benar.

Kenapa bank syariah saat itu betul-betul sudah murni saat itu?, tidak lain dikarenakan berbagai faktor penghambat implementasi sharia compliance tidak terdapat lagi. Belum lagi kebradaan lembaga keuangan mikro syariah yang juga tumbuh subur dan menggurita di Indonesia sehingga memaksa persaingan yang sehat dengan perbankan syariah. Lembaga mikro syariah ala Grameen Bank ini menjadi idola masyarakat di tahun 2112 dan dapat ditemukan di semua kelurahan bahkan mesjid-mesjid di Indonesia. Bersama-sama dengan perbankan syariah, lembaga mikro ini juga mengambil porsi yang signifikan dalam membantu peningkatan ekonomi masyarakat sampai ke pelosok-pelosok desa.

Tidak hanya lembaga mikro syariah, lembaga Zakat Infak Sadaqah dan Wakaf (Ziswaf) juga menjadi lembaga yang sangat diidolakan masyarakat pada tahun 2012. Ratusan trilyun potensi zakat dan wakaf masyarakat -yang pada tahun 2012 ini biasanya hanya berupa proyeksi di atas kertas saja, berhasil benar-benar diwujudkan saat itu. Lembaga-lemba Ziswaf tersebut dikelola dengan manajemen yang canggih dan transparan.  Implikasinya, berbagai sarana sosial masyarakat dapat dengan mudah didirikan dan diakses oleh semua lapisan masyarakat, misalnya sarana kesehatan gratis ala LKC-nya Dompet Dhuafa saat ini, sarana pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi yang berkualitas dan tentu saja gratis, sarana tempat tinggal yang kondusif,,ruang hijau yang representatif,  dsb.

Selain itu, lembaga-lembaga syariah seperti asuranasi , pegadaian, pasar modal, dll juga sangat maksimal berperan dalam menolong masyarakat saat itu. Tidak ditemukan lagi unsur-unsur riba, judi, gharar, spekulasi dan kezaliman lainnya dalam semua transaksi ekonomi karena pengawasan yang ketat dan kesadaran ber-syariah yang sudah mengurat berakar di masyarakat.

Pada tahun 2112, sekularisasi dalam bidang pendidikan tidak ditemukan lagi. apalagi dalam bidang ekonomi. Fakultas ekonomi sudah dipastikan terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Berbagai teori mikro dan makro ekon0mi sudah menyerap nilai-nilai Islam dengan sempurna. Kendati tidak menggunakan label-label keagamaan yang ekslusif, namun sistem pendidikan saat itu sudah sepenuhnya terintegrasidengan nilai-nilai agama. Implikasinya, jangan harap ada tawuran lagi saat itu. Para siswa dan guru sudah sangat menghayati nilai-nilai persaudaraan, tolong-menolong, dan rendah hati. Demikian juga penyalahgunaan narkoba tidak bakalan ditemukan di kalangan siswa maupun masyarakat karena hukum terhadap pelanggaranya akan dikenakan sanksi yang keras dan dilaksanakan dengan sebenar-benarnya.  Gedung dan sarana pendidikan sangat kondusif. Laboratorium dan perpustakaan dengan mudah diakses sampai pada sekolah-sekolah yang berada di pelosok negeri. Kondisi ini menyebabkan para siswa tidak mudah stress dan bingung dalam menuntut ilmu sehingga mereka juga dipastikan tidak melakukan pencarian jati diri dengan cara yang salah.

Media-media pada tahun 2112 juga menyajikan tontonan yang sangat mendidik, inspiratif dan tidak lagi menyediakan tontonan “sampah” sepertisaat ini dimana justru menyebabkan banyak generasi muda kehilangan jati dirinya dan moralitas mereka. Hal ini disebabkan para stakeholder benar-benar paham akan signifikansi sebuah media bagi perbaikan umat, tidak bukan sekedar alat untuk mencari keuntungan tanpa memandang nilai etika dan agama,

Berfungsinya lembaga keuangan syariah dengan adanya dukungan lembaga Ziswaf yang maksimal, juga mendorong lahirnya semangat kewirausahaan yang tinggi di masyarakat. Maka tak heran kalau profesi yang diidolakan generasi Indonesia pada tahun 2112 adalah menjadi pengusaha atau wirausaha. Prinsip mereka, “kalau bisa jadi bos, kenapa harus bekerja kepada orang lain?”😉.

Efeknya, pada tahun 2112, Indonesia menjadi negara yang disegani dalam segala bidang khususnya ekonomi karena fondasi ekonominya sangat kuat. Berbagai industri kreatif tumbuh subur di Indonesia dan menghasilkan berbagai produk made in Indonesia dengan daya saing yang tinggi.  Produk-produk itu dengan mudah ditemukan di berbagai etalase toko di Perancis, Jerman, Amerika, Timur Tengah bahkan China.

Implikasi dari efektifnya lembaga keuangan dan institusi  syariah pada tahun 2112 juga mendorong peningkatan income perkapita masyarakat  bahkan melebihi negara-negara maju yang ada saat ini. Hutang Indonesia hampir mendekati nol karena negara tidak butuh lagi kepada hutang luar negeri. Akibantya kedaulatan dan harga diri bangsa menjadi tinggi.

Saat itu, kemiskinan sangat sulit ditemukan karena distribusi pendapatan berjalan dengan baik bahkan dalam berbagai kasus, Indonesia justru memberikan zakat kepada negara-negara lain J.  Jadi jangan berharap, Anda bisa menemukan pengemis di jalan raya. Semuanya sudah makmur dan sejahtera. Keamanan sangat terjamin, kasus-kasus terorisme hanpir dipastikan hanya menjadi cerita sejarah yang tertulis di buku-buku pelajaran anak-anak saat itu.

Lalu, bagaimana dengan korupsi?, jangan khawatir, pada tahun 2112, korupsi hampir dipastikan tidak ada lagi. Saat itu, hukuman mati sudah biasa diberlakukan kepada para koruptor, sama seperti hukuman kepada para pengedar dan gembong narkoba. Para polisi dan penegak hukum sangat kebal terhadap berbagai suap. Mereka berintegritas tinggi, mandiri, dan istiqamah. Tentu saja, hal ini disebabkan, tidak saja karena kesejahteraan mereka yang sudah berada di atas rata-rata, namun juga karena adanya ketauladanan para pemimpin yang memangku jabatan saat itu.  Di atas segalanya, hilangnya prilaku koruptif saat itu juga disebabkan karena pradigma masyarakat yang sepenuhnya berorientasi kepada falah yaitu keseimbangan dalam mengupayakan kesejahteraan dunia dan akhirat. Jadi, paradigma materialisme, hedomisme, kapitalisme, dan konsumerisme sudah lama hilang  dalam masyarakat ketika itu.  Tak heran bila masyarakat saat itu tak tertarik lagi dengan prilaku koruptif.  Saat itu, slogan yang populer adalah “jaman begini masih korupsi?, itu cerita masa dulu,”. Orang tidak lagi tertarik mencari uang dengan cara haram karena sistem ekonomi telah memungkinkan seseorang mampu mendapatkan harta secara halal dan berkah tanpa perlu menelikung peraturan, nilai-nilai agama atau menzalimi orang lain.

Apakah itu saja impian saya?, tentu tidak..Masih banyak impian saya yang tak tertulis di di sini. Tapi saya juga sangat yakin bahwa impian Anda pasti jauh lebih menarik. Oleh karena itu, saya menunggu bagaimana pula impian Anda terhadap Indonesia 100 tahun mendatang,,,Selamat bermimpi dan tentunya selamat bertindak tanpa menunggu 100 tahun lagi karena bisa jadi hanya sedikit dari kita yang diberi kesempatan untuk menyaksikan terwujudnya impian tersebut. Semoga..!!..