oleh:  M. Ridwan

 Nun jauh di sana, lebih dari 500 tahun lalu, kisah suap-menyuap, “palak-memalak” dan “kongkalikong” juga pernah terjadi dalam sejarah Islam. Tepatnya pada masa Dinasti Mamluk di Mesir. Dinasti ini dikenal sebagai salah satu dinasti yang cukup diperhitungkan dalam sejarah Islam dan berkuasa dari tahun 1250 M sd 1517 M.

Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan bangsa Mongol di Baghad, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah Mesir yang ketika itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamluk.

Mamluk berarti budak. Dinasti Mamluk atau Mamalik memang didirikan oleh para budak. Mereka pada mulanya adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya. Mereka ditempatkan pada kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Oleh penguasa Ayyubiyah yang terakhir, al-Malik al-Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada masa penguasa ini, mereka mendapat hak-hak istimewa, baik dalam karier ketentaraan maupun dalam imbalan-imbalan material. Pada umumnya mereka berasal dari daerah Kaukasus dan Laut Kaspia. Di Mesir mereka ditempatkan di pulau Raudhah di Sungai Nil untuk menjalani latihan militer dan keagamaan. Karena itulah, mereka dikenal dengan julukan Mamluk Bahri. Saingan mereka dalam ketentaraan pada masa itu adalah tentara yang berasal dari suku Kurdi.

Dinasti Mamluk tercatat mampu menunjukkan sejumlah prestasi yang ditorehkan di Mesir seperti dalam bidang ekonomi dengan adanya hubungan dagang dengan Perancis dan Italia, pembangunan jaringan transportasi dan komunikasi antarkota, baik laut maupun darat. Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat berkembangnya berbagai bidang ilmu seperti sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun. Di bidang astronomi dikenal nama Nashiruddin ath-Thusi. Di bidang matematika Abul Faraj al-‘Ibry . Dalam bidang kedokteran: Abul Hasan ‘Ali an-Nafis, penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia, Abdul Mun’im ad-Dimyathi, seorang dokter hewan, dan Ar-Razi’, perintis psikoterapi. Dalam bidang opthalmologi dikenal nama Shalahuddin ibn Yusuf. Sedangkan dalam bidang ilmu keagamaan, tersohor nama Syaikhul Islam ibn Taimiyah, seorang mujaddid, mujahid dan ahli hadits dalam Islam, Imam As-Suyuthi yang menguasai banyak ilmu keagamaan, Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam ilmu hadits, ilmu fiqih dan lain-lain.

Dinasti Mamluk juga banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan lain yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan, villa-villa, kubah dan menara masjid.

Namun, siapa sangka, ternyata Bani Mamluk juga menyimpan beberapa catatan kelam tentang betapa buruknya pengelolaan sebuah negara yang berakibat fatal bagi masyarakat dan kehancuran Bani Mamluk sendiri. Setidaknya itulah kisah yang bisa kita baca dari apa yang ditulis oleh Al-Maqrizi dalam kitabnya Ighatshah al-Ummah bi Kasf al-Ghummah dan Suluk li Ma’rifat al-Duwal al-Muluk. Al-Maqrizi adalah seorang tokoh yang sering menjadi kajian peminat moneter Islam dan sangat  mumpuni menjelaskan  bagaimana seharusnya sebuah negara menerapakan kebijakan ekonomi.

Dalam kedua kitab ini, Maqrizi menceritakan bahwa pada masa Mamluk, banyak penguasa yang hidup berfoya-foya dan mempraktikkan suap. Tragisnya, suap-menyuap bahkan terjadi  dalam memperebutkan jabatan muhtasib yang dipandang sangat prestisius sebagai pengawas perekonomian masyarakat saat itu.  Peran muhtasib dengan wilayah hisbahnya pada dasarnya sangat signifikan dalam mengawasi prilaku ekonomi pada saat itu. Peran ini juga terbukti efektif membantu kelancaran ekonmi masyarakat ketika itu.  

Sayangnya, jabatan muhtasib ternyata menjadi lahan yang diperebutkan banyak kalangan. Mengapa? Tidak lain karena jabatan ini sangat prestisius (setingkat di bawah menteri) dan menjanjikan kesejahteraan yang cukup melimpah bagi si muhtasib.  

Dalam kitab Suluk li Ma’rifah Duwal al-Muluk, disebutkan bahwa seorang muhtasib biasanya mendapatkan gaji sebesar 2 dinar perhari (Kira-kira 5 juta rupiah). Bayangkan, dalam sebulan seorang muhtasib bisa mendapat lebih dari 60 dinar atau lebih dari 120 juta rupiah/perbulan  jika dikonversi  ke kurs saat ini.

Info dari al-Maqrizi juga dibenarkan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam kitabnya Anba’ al-Ghumur bi Abna’ al-Umur  yang menyebutkan bahwa seorang muhtasib bisa mendapatkan gaji sebesar  5000 dinar (hampir 1,2 M Rupiah). Gaji  yang cukup tinggi ini juga ditambah dengan berbagai fasilitas lainnya seperti kendaraan (25 ekor kuda/keledai terbaik), pakaian mahal dan sarana lainnya.  

Pada dasarnya, gaji muhtasib memang sengaja dibuat tinggi supaya para muhtasib tidak lagi tergiur dengan suap dari pihak-pihak yang diawasinya. Maklum, mereka harus berurusan dengan uang, karena mengelola baitul mal, pengawasan pasar dan bisnis, pendirian toko-toko, perumahan (developer),  termasuk juga mengurus waqaf.  Mungkin karena banyak berhubungan dengan sektor “fulus” ini pula maka terkadang ada saja muhtasib yang “serakah” dengan menocba bermain api dengan para pelaku bisnis seperti suap-menyuap dan sebagainya.  Fakta ini juga menunjukkan bahwa peningkatan gaji sepertinya bukanlah satu-satunya cara menghilangkan prilaku koruptif.

Kondisi ini diperparah dengan adanya jual beli jabatan muhtasib antara penguasa dan calon yang ingin mendapatkan jabatan itu. Modusnya, penguasa menunjuk seseorang yang tidak berkompeten menjadi seorang muhtasib setelah sebelumnya diberikan gelar dadakan sebagai “faqih”. Gelar itu semacam sertifikasi kelayakan yang dibutuhkan untuk menentukan apakah seorang calon muhtasib itu itu kualifaid. Orang yang mempromosikan si calon muhtasib tadi selanjutnya “meminta upeti” (me-malak) si muhtasib untuk menyetor sejumlah tertentu uang tiap bulan dengan kisaran yang bervariatif.

Kisah ini terungkap ketika terjadi peristiwa pemecatan Sadr al-Din Ahmad al-‘Ujma dari posisi muhtasib karena ia ternyata tidak mampu menyetor sejumlah 1000 dinar emas kepada penguasa saat itu. Padahal ‘Ujma telah menyetorkan 500 dinar sebelum untuk “membeli” jabatan itu, namun entah kenapa ia tidak melunasinya ketika terpilih menjadi muhtasib. Akhirnya iapun dipecat. Peristiwa yang lain juga dialami oleh Ali Khurasani pda tahun 852 H yang dipecat dari jabatan muhtasib karena tidak mampu memenuhi tuntutan 3000 dinar seperti “tradisi” yang dilakukan oleh para muhtasib lain. Ada juga cerita mengenai muhtasib lain yaitu al-’Ainiy yang berkomitmen menyerahkan setengah gajinya yaitu 1 dinar perhari untuk siapa saja yang mau mempromosikannya sebagai muhtassib.

Terkejut bukan?, tapi begitulah yang dikisahkan oleh al-Maqrizi ketika menjelaskan kebobrokan Bani Mamluk dalam pada masanya.  Bani Mamluk sendiri runtuh pada tahun 1517 M karena berbagai krisis yang menderanya termasuk krisis mata uang yang mengakibatkan inflasi dan resesi di seluruh wilayah kekuasaannya.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud menafikan peran besar muhtasib dalam sejarah Islam. Wilayah Hisbah dengam muhtasibya pada dasarnya bisa menjadi model bagi pengawasan pasar yang efektif. Banyak kajian dan penelitian telah dibuat untuk melihat signifikansi lembaga ini dalam perekonomian. Kisah di atas hanyalah segelintir penyimpangan yang dilakukan pula oleh segelintir oknum dengan menocba “kongkalikong” mendapatkan uang dengan jalan haram. Semoga kisah tersebut bisa menjadi i’tibar bagi warga semua negeri ini khususnya penguasa untuk tidak mengulagi kesalahan yang sama.  Saatnya kita mempraktikkan tauladan yang baik. Terlebih lagi ekonomi syariah telah berkembang sehingga para pegiat ekonomi syariah juga harus membantu mencarikan jalan keluar supaya berbagai penyimpangan prilaku ekonomi seperti korupsi, suap-suap, “palak-me-malak, dan kongkalikong juga tidak terjadi di negeri ini.  Semoga..