Oleh: M. Ridwan

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-BAqarah: 275)

Beberapa hari ini, publik dihebohkan dengan kasus kaburnya seorang direktur perusahaan invetasi emas GTIS yang  mengiming-iming dapat memberikan return yang sangat menggiurkan. Sang direktur diduga telah melarikan trilyunan dana nasabah ke negeri seberang, sebuah jumlah yang fantastis di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Seperti tidak kenal berhenti, investasi “bodong” seperti ini terus muncul dan memakan korban. Beberapa waktu lalu, kasus Koperasi Langit Biru juga telah menjadi menimbulkan korban yang cukup banyak. Negeri ini memang memiliki track record yang cukup banyak mengenai kasus-kasus penipuan dari perusahaan-perusahaan  sejenis. Anehnya, ketika perusahaan invetasi “bodong” ini muncul, selalu saja banyak peminat, berjibun, kendati mereka tahu risikonya juga besar alias risiko tertipu.

Tentu saja, kita sangat prihatin dengan para korban yang kehilangan uang yang telah diinvestasikan. Uang tersebut mungkin saja jerih payah dari usaha yang dilakukan bertahu-tahun. Mungkin saja ada yang  terpaksa menjual asset yang dimiliki dan banyak pula yang meminjam dana dari lembaga keuangan dan mencoba pertaruhan nasib di invetasi bodong ini.

 Kita tidak bisa pula menyalahkan para nasabah yang berbondong-bondong “mempertaruhkan” hartanya demi mendapatkan “return” (kalau boleh dikatakan sebagai return) yang cukup tinggi. Dalam kondisi ekonomi saat ini, saya yakin pasti siapapun akan tergiur untuk “menginvestasikan” uangnya di perusahaan yang  bisa menawarkan keuntungan yang cukup tinggi –tanpa bekerja, tinggal tunggu dan uang berkembang biak.

Satu hal yang mungkin harus disadari bahwa uang hanyalah sarana yang digunakan manusia untuk menopang kehidupan. Uang bukanlah tujuan, sama seperti politik. Politik juga adalah sarana, namun banyak orang yang menjadikannya tujuan sehingga banyak orang melakukan apa saja demi menggapai posisi tertentu dalam bidang politik.

 Saya kira, semua penggiat ekonomi Islam memahami bahwa uang bukanlah komoditi. Uang hanyalah media tukar yang menjembatani pihak-pihak yang ingin bertraksaksi.  Kelahiran uang merupakan sebuah inovasi kreatif yang diciptakan oleh manusia yang tujuannya adalah memudahkan kehidupannya.

Dalam perkembangannya, ternyata fungsi uang mulai disalahgunakan.  Pemilik uang “merasa” bahwa merupakan suatu kewajaran apabila ia membebankan bunga atas uang yang dipinjamkannya. Uang menjadi tujuan dan dengan demikian boleh dan wajar sekali bila dikembang biakan tanpa peru bersusah payah mengembangkannya di sektor riil.

 Dari sinilah kemudian muncul mental rentenir -si pembunga uang-. Aktifitas membungakan uang ini sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri dan tentu saja sangat mudah ditemukan di Indonesia saat ini. Dalam Islam aktifitas ini disebut riba yang dosanya sangat besar. Hadis menyebutkan bahwa dosa paling ringan dari riba adalah seperti dosa seseorang berzina dengan ibu kandungnya. Na’uzubillah..

Investasi “bodong” adalah contoh pembungaan uang yang dibungkus dalam bingkai investasi. Orang mungkin alergi dengan kata “membungakan uang”  tapi cukup nyaman dengan kata “investasi”. Makanya banyak yang mudah terkecoh dengan tawaran dan iming-iming berbalut kata investasi. Belum lagi julukan sebagai seorang investor bagi sebagian besar orang merupakan prestise dan kebanggaan tersendiri.

Dalam konteks investasi emas “bodong” yag heboh saat ini setidaknya ada beberapa pemicu yang mungkin menjadi penyebab, yaitu:

  1. Tawaran return yang cukup tinggi.
  2. Adanya jaminan keamanan bahwa si nasabah tidak akan rugi karena fisik emas itu ada dan bisa menjadi jaminan.
  3. Adanya jaminan kesyariahan atas perusahaan tersebut yang menunjukkan bahwa perusahaan itu teah memiliki sistem yang benar-benar syariah.

Dari ketiga faktor di atas, point ke tiga adalah point yang harus digaris bawahi. Sepengetahuan penulis, selama ini, investasi bodong yang ada di Indonesia tidak ada yang memiiki sertifikat syariah. Sertifikat dari DSN MUI itu memiliki prosedur ketat dalam pemberiannya. Jadi, saya yakin bahwa MUI telah mempelajari secara rinci sistem yang akan dijalankan oleh GTIS dan tidak akan gegabah memberikan sertifikat syariah tersebut.

Namun, tentu saja, hati manusia tidak bisa ditebak. MUI tentu tidak bisa menebak apa niat awal di hati direktur GTIS ketika meminta sertifikat. Artinya, secara lahiriah dia bersedia memenuhi kriteria yang ditentukan. MUI tentu tidak bisa disalahkan. Artinya, MUI tentu tidak perlu menanyakan isi hati seseorang.  Prilaku menyimpang bisa saja terjadi dalam proses berjalan. Mungkin ke depannya, kecepatan dalam melihat gelagat moral hazard ini perlu dikembangkan. Selama ini, penulis melihat bahwa kaum terpelajar dan alim ulama kita lebih menonjolkan sikap berbaik sangka (husn zahn) dalam melihat lembaga-lembaga yang ingin mensyariahkan sistem mereka.

Antisipasi terhadap penyimpangan pada dasarnya dimiliki DSN. Sertifikat syariah biasanya memiliki jangka waktu tertentu dan terus direview oleh DSN. Artinya, perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan yang telah ditentukan dalam operasional maka sertifikat tersebut bisa ditarik kembali. Hal ini pernah dilakukann MUI. Dalam kasus GTIS tentu saja sertifikat ini bisa ditinjau kembali.

Banyak hal ini yang sebenarnya bisa menjadi pelajaran untuk mencegah kasus seperti ini terjadi di kemudian hari. Pihak-pihak yang memiliki otoritas diharapkan lebih proaktif membantu para nasabah jauh-jauh hari ketika lembaga-lembaga investasi ini ini muncul sehingga tidak memakan korban yang lebih banyak. Para korban biasanya banyak didasari faktor ketidaktahuan bahwa “investasi” seperti ini sangat berisiko. Perlu pula digalakkan penciptaan berbagai bentuk investasi di sektor riil non keuaangan yang benar-benar logis dan menguntungkan semua pihak.

Di atas segalanya, perlu ada reorientasi cara pandang terhadap uang. Sikap materialistis, hedonisme dan serakah harus dhindarkan. Reorientasi ini akan mengarahkan kita hanya kepada metode pencarian harta yang berkah dan halal saja. Harta berkah adalah harta yang walaupun sedikit tetap mampu dinikmati si pemiliknya dan kalau harta tersebut banyak bisa bermanfaat bagi banyak orang. Sebaliknya harta yang kehilangan keberkahan justru menyebabkan si pemiliknya akan terus merasa kehausan dan kesetanan. Mereka mudah stress ketika hartanya berkurang. Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran bagi kita semua.