Oleh: M. Ridwan

“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka nerakalah lebih berhak atasnya”  (Hadis)

Bulan mulia Ramadan hampir mendekati akhir. Bagi hamba yang merindukan kebaikan dan kemuliaan dari Allah, tentulah berakhirnya Ramadan adalah hal yang menyedihkan karena tidak ada kepastian apakah tahun depan, kita bisa bersua kembali dengan bulan Ramadan seperti tahun ini. Bagi yang tidak ikhas, tentu saja tidak akan bisa menghayati Ramadan. Bagi mereka, puasa bisa saja merupakan sebuah penderitaan fisik yang harus segera berlalu atau kalaupun dikerjakan, maka puasanya hanyalah sekedar seremonial belaka, penuh dengan kepalsuan dan rasa malas.

Namun, ada satu kelompok manusia yang meskipun melakukan puasa dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan, tetapi pahala puasa mereka pasti tidak diterima Allah. Siapakah mereka? Tidak lain adalah para pemakan harta haram atau para koruptor. Menyedihkan sekali bukan..?

Adalah Ibhrahim bin Adham seorang tokoh sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Suatu hari, ketika sedang tertidur di bawah sebuah pohon, sayup-sayup ia mendengar percakapan dua malaikat. Malaikat pertama berkata ”lihatlah, itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang mulia yang doanya pasti dikabulkan oleh Allah karena Allah begitu menyayanginya”. Malaikat kedua berkata, ”tidak, sekarang tidak lagi. 40 hari yang lalu, segala amal dan doanya memang diterima Allah, namun sekarang tidak lagi, karena Ibrahim bin Adham ini telah memakan harta haram.”

Ibrahim bin Adham kaget dan terbangun dari tidurnya. Ia kaget karena setahunya ia tidak pernah memakan harta yang haram. Jangankan yang haram, yang subhat (tidak jelas haram atau halal) saja ditinggalkannya. Lalu, harta haram mana yang dimaksudkan oleh malaikat itu?. Ia bertanya-tanya dalam hati.

Akhirnya ia ingat, bahwa 40 hari lalu ia ada membeli sekarung kecil kurma di sebuah pasar. Saat itu, sudah ada kesepakatan antara dia dan penjual kurma dan ia membayar harga kurma yang disepakati. Saat serah terima, Ibrahim bin Adham melihat sebutir kurma berada tepat di bawah bungkusan kurma yang dibelinya. Ia mengambil kurma kecil itu dan memakannya karena menyangka bahwa kurma itu adalah bagian dari kurma yang berada di dalam bungkusan tadi. Sebuah hal yang mungkin sering kita temukan dalam transaksi sehari-hari di pasar.

Namun, ternyata sebutir kurma itu bukanlah bagian dari kurma yang dibelinya. Nah, kurma inilah yang diceritakan oleh malaikat tadi yang menyebabkan doa dan amal Ibrahim bin Adham tidak diterima Allah selama 40 hari.

Ibrahim bin Adham kemudian memutusakan mencari si penjual kurma itu. Sayangnya, ketika sampai di pasar ia tidak menemukan si penjual kurma itu lagi. Ia bertemu dengan seorang anak muda yang menjual di tempat yang sama. Dari si anak itu diperolehnya informasi bahwa si penjual lama adalah ayahnya dan kini telah wafat. Ibhramin tentu kaget dan bingung. Kemanakah ia harus meminta izin?. Akhirnya ia menceritakan hal ihwalnya kepada sang anak dari pejual itu. Sang anak berkata,” Wahai Bapak, bagi saya kurma itu sudah saya izinkan, tapi saya tidak tahu bagaimana dengan saudara saya lain yang lain.” Jangan-jangan ada di antara mereka yang tidak mengizinkan. Coba kamu temui mereka di bebeberapa kota di negeri ini. Sang adik menjelaskan bahwa saudara-saudaranya tersebar di beberapa kota sehingga Ibrahim bin Adham harus menemui mereka satu persatu. Berangkat dari keinginan untuk memberisihkan harta dan agar doanya dan amalnya diterima Allah, maka Ibrahim bin Adham memutuskan mencari semua saudara dari si penjual kurma itu kendati mereka berada di tempat jauh dan terpencar. Sebuah pekerjaan yang berat cukup berat.

Singkat cerita, akhirnya Ibrahim bin Adham berhasil menemui satu persatu anak si penjual yang wafat tadi. Mereka semua mengizinkan kurma yang telah diambil oleh Ibrahim bin Adham. Saya yakin kita juga akan mengizinkan kurma itu dimakan oleh syaikh yang mulia ini bukan..? Hingga suatu ketika Ibrahim bin Adham sedang tertidur, ia mendengarkan percakapan dua malaikat itu kembali. Malaikat yang kedua berkata,” Nah, sekarang doanya dan amalnya sudah diterima oleh Allah kembali karena ia telah mendapatkan izin dari si pemiliknya.” Sebuah cerita yang berakhir dengan happy ending bukan..?

Nah, berangkat dari kisah di atas dapat dibayangkan bahwa betapa amal ibadah dan doa kita tidak akan diterima oleh Allah jika ada harta yang haram yang masuk ke dalam perut kita. Jangankan harta haram yang sengaja dimakan, harta haram yang tidak sengaja saja, bisa membuat amal kita sia-sia dan ditolak oleh Allah seperti yang dialami oleh Ibrahim bin Adham yang nyata-nyata adalah seoranng hamba Allah yang saleh.

Koruptor adalah pemakan harta haram. Mungkin harta itu di dapatnya dari suap-menyuap, mempermainkan hukum, menzalimi oran lain, gratifikasi, mark up proyek, atau dengan menyalahgunakan jabatan yang ada. Demikian juga pemakan riba. Jika itu dilakukan, maka dapat dipastikan bahwa segala amal ibadah dan doa si pelaku khususnya di Ramadan tahun 2013 ini akan ditolak mentah-mentah oleh Allah. Sayang banget bukan..? bahkan bukan itu saja, setiap daging yang tumbuh dari harta haram maka si pemiiknya pasti akan masuk ke dalam neraka. Mengerikan sekali,,

So, apa yag harus kita lakukan di penghujung Ramadan ini..?. Segera lakukan muhasabah maliyah (refleksi terhadap harta yang kita peroleh), segera temui orang-orang yang hartanya mungkin pernah kita ambil, baik secara zalim maupun dengan mekanisme “pintar” lainnya. Segera bayar hutang, bayar zakat harta dan tentu saja bersegeralah taubat atas segala tindakan salah yang kita lakukan, baik sengaja maupun tidak, karena telah lama memakan harta haram, yang mungkin kita peroleh dari profesi yang kita geluti sehari-hari. Berani bertindak..?, insyaallah surga mendekat dan neraka dijauhkan Allah, Amin.