Oleh : M. Ridwan

Sesungguhnya pemimpin itu tidak lain bagaikan perisai di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya, jika ia menyuruh bertaqwa kepada Allah dan berlaku adil, maka ia akan mendapat pahala, dan jika dia menyuruh selainnya, maka ia mendapat dosa

(H.R Bukhari dan Muslim)

Yang aku takuti terhadap umatku ialah dari kalangan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan” (HR Abu Daud)

Imam al-Tabari di dalam kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk menjelaskan bahwa ada kaitan antara akhlak dan moral pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya. Beliau memberikan contoh tiga khalifah di jaman Umayyah yaitu al-Walid Ibn Abd al-Malik, Sulaiman Ibn Abd al-Malik dan Umar Ibn Abd al-Aziz. Menurutnya, Khalifah al-Walid merupakan pemimpin yang suka kepada pembangunan dan perindustrian, maka masyarakatnya juga bersaing dalam pembangunan dan mendirikan bangunan pencakar langit. Hal ini berbeda dengan rakyat pada jaman Sulaiman Ibn Abd al-Malik. Menurutnya, karena sang khalifah gemar makan dan kawin maka taidak heran jika masyarakatnya juga memiliki hobi yang sama. Era yang paling menarik adalah pada masa Umar Ibn Abd al-Aziz. Menurut Thabari, watak dan budaya masyarakat pada pemerintahan Umar berbeda sama sekali dengan masa sebelumnya. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, bila  dua orang bertemu di jalanan, maka mereka saling menanyakan tentang puasa, qiyamullail, hafalan, khataman al-Quran dan hal-hal lain yang bisa meningkatkan keimanan kepada Tuhan. Hal ini dikarenakan sang khalifah juga gemar melakukan qiyamullail, menghafal al-Quran dan banyak berpuasa (Al-Tabari, jil. 3 : 98. dlm. al-Nadawi :50). Kira-kira, apa ya kegemaran penduduk negeri ini..? maka begitulah jugalah kegemaran para pemimpin kita. J.

Fenomena masyarakat yang berebut menjadi pejabat baik menjadi pejabat di sebuah institusi, atau bahkan sebuah negara, merupakan hal yang marak kita saksikan. Lihat saja spanduk-spanduk, bahkan iklan di media masa. Seolah semuanya terlahir menjadi penyelamat dan mengklaim dirinya layak untuk mengemban jabatan tertentu padahal mungkin saja mereka sendiri belum bisa mengurus diri dan keluarganya untuk menjadi pribadi yang baik.

Saya tentu tidak bermaksud mengatakan bahwa menjadi pejabat itu dilarang. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menunjuk pribadi-pribadi tertentu yang saat ini berebut menjadi pejabat atau pemimpin, karena bisa saja mereka sudah “sangat cerdas” sehingga  sanggup mengemban amanah kepemimpinan itu. Saya juga bukan kalangan pesimis melihat masa depan kepemimpinan dan prihal “jabat-menjabat” di negeri ini.  Perhatian kita tentunya lebih diarahkan kepada fenomena perebutan jabatan yang biasanya menjadi ajang persaingan tidak sehat dan diwarnai intrik-intrik politik kotor. Ini baru proses perebutannya, belum lagi nanti proses mempertahankan kekuasaan dan seabrek prilaku korup yang biasanya muncul di kemudian hari. Buktinya, banyak para pejabat yang terjerat kasus korupsi dan dijebloskan ke dalam tahanan. “Kok bisa ya.., apa tidak kapok..?, bukankah itu sebuah kebodohan nyata yang terus terulang? J

Berdasarkan kondisi di atas, kiranya layak diajukan sebuah pertanyaan, apakah memperebutkan jabatan atau ambisi menjadi pemimpin adalah sebuah pilihan cerdas ataukah tidakkah ia justru hanya sebuah pilihan “bodoh” yang bisa menjerumuskan si pelakunya  ke dalam penyesalan berkepanjangan. Lalu, siapa yang mengatakannya bodoh?.

Ungkapan bodoh disandingkan kepada seseorang yang rela mengemban sebuah amanah namun tidak menunaikannya dengan baik. Ungkapan ini pernah disampaikan Allah dalam al-Quran surat Al-Ahzab ayat 72:

 “Sesunguhnya kami telah beri amanah kepada langit dan bumi, maka mereka enggan dan berat menerimanya, tetapi manusia justru menerimanya. Sesungguhnya manusia itu zalim dan bodoh terhadap dirinya.”

Dengan demikian, ungkapan zalim dan bodoh juga bisa ditujukan kepada seorang pemimpin karena pada hakikatnya ia adalah seseorang yang rela mengemban amanah yaitu sebagai pelayan masyarakat. Sebagai pelayan, seorang pemimpin harus siap berkorban demi kepuasan hati orang yang dilayani. Tidak ada kata mengeluh dan protes jika orang yang dilayaninya mungkin tidak mengucapkan terima kasih kepadanya. Siapa yang berani dengan tantangan ini..?

Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz adalah sosok pemimpin yang sadar bahwa tugas pemimpin adalah untuk memastikan bahwa yang mereka pimpin terlayani dengan baik dari sisi material, emosional dan terutama spiritual. Mereka memastikan di negerinya tidak ada orang miskin, tidak ada yang tidak terlayani, tidak ada yang terzalimi, dan tidak ada yang ingkar dengan Tuhannya termasuk memastikan diri dan keluarganya tidak menjadi hamba yang ingkar Tuhan. Kedua Umar ini tentu saja cerdas karena berhasil menggunakan kekuasaannya untuk meningkatkan pengabdiannya kepada Tuhannya.

Lalu, apakah kita bisa mendapatkan pemimpin dua orang Umar di atas, di jaman serba hedonis, kapitalis dan sekuler seperti saat ini?. Saya yakin  bahwa pemimpin atau calon pemimpin seperti mereka mungkin cukup banyak tersedia di negeri kita. Masalahnya, bagaimana mengeksplorasi dan menstimulus calon pemimpin ideal itu untuk muncul.

Di atas segalanya, seorang pemimpin haruslah bisa mengeksplorasi hati nuraninya. Apakah ia cukup jujur dan peduli tidak hanya kepada orang lain tapi yang terpenting jujur kepada diri dan Tuhannya.  Apakah ia mau memperbaiki keadaan mental dan spiritual masyarakat yang saat ini sudah mulai keropos dan seperti berjalan sendiri. Relakah ia tidak tidur di malam hari untuk memikirkan rakyatnya atau menangis bermunajat kepada Allah untuk kebaikan orang yang dipimpinnya?. “Anda sedang bermimpi”, kata teman saya dengan pesimis. “Pemimpin seperti itu hanya ada dalam dongeng atau akan datang menjelang kiamat nanti”, katanya.

Tapi saya yakin tidak, pemimpin impian pasti ada walau entah dimana.:) atau setidaknya marilah kita berdoa semoga orang-orang yang berhasrat menjadi pemimpin di negeri ini –apapun jabatan yang mereka kejar- bukanlah orang-orang yang dicap Allah dengan orang-orang zalim dan bodoh karena tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang memegang bara api neraka jika tidak menunaikan amanah itu.

Moga Ramadan tahun ini bisa melahirkan pemimpin-pemimpin sejati dan amanah. Semoga Allah juga melindungi kita dari pemimpin-pemimpin bodoh, zalim dan korup. Amin. Selamat Idul Fitri 1434 H. Mohon Maaf Lahir Batin.