Oleh: M. Ridwan

 “Wahai Suamiku, berikan kami makanan yang halal. Sungguh kami sanggup menahan lapar ketika tidak makan, namun kami tak sanggup menahan panasnya neraka (karena makanan haram/korupsi) serta marahnya Allah”

Kata-kata di atas adalah ungkapan para wanita Arab salafussalih (terdahulu) ketika melepas suami mereka berangkat kerja. Diiringi doa dan tatapan sayang, tak lupa mereka memberikan pesan yang bernada “ancaman” supaya ketika pulang nantinya sang suami tidak membawa makanan yang haram ke rumah mereka. Haram yang dimaksud adalah haram baik dalam metode mencarinya atau secara fisik benda tersebut memang benda haram.

Ungkapan di atas bukan dongeng, tapi begitulah yang diceritakan dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin. Bayangkan, jika pada suatu hari, isteri Anda mengatakan hal yang sama ketika Anda berangkat kerja,,apa respon yang Anda berikan ..?. Atau jika isteri Anda kemudian membacakan hadis nabi “ “Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.” (Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani)  kemudian menutupnya dengan hadis ““Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli apa yang dia ambil, apakah dari hasil yang halal atau yang haram.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan An-Nasa’i), apakah Anda akan tambah bersemangat berangkat kerja hari itu atau justru ketakutan dan menganggap isteri Anda sedang “sok alim” atau “sok idealis” ? J

Sikap perempuan-perempuan Arab dalam kitab Mukhtasar  tersebut tentulah didasarkan pada paradigma syukur, ikhlas dan ketenangan yang luar biasa dalam menyikapi rejeki (uang, harta, jabatan, dll). Tentu saja, merekaa adalah perempuan-perempuan cerdas yang bisa mengkalkulasikan bahwa keuntungan akhirat yang sifatnya long term  (jangka panjang) jauh lebih berharga untuk diperjuangkan ketimbang  “keuntungan semu jangka pendek” berupa kepemilikan harta/materi haram yang pada akhirnya adalah“kerugian berkepanjangan” baik di dunia dan di akhirat.

Perempuan-perempuan Arab di atas tidak akan merelakan sang suami menyuapi mereka dengan makanan bergizi namun didapatkan dari harta kotor. Harta-harta itu mungkin saja telah “dibungkus” sehingga terkesan seolah-olah menjadi harta bersih, halal dan berkah.

Tentu saja, kisah di atas bukan pula yang menjadi alasan sehingga pemerintah China memutuskan untuk memiskinkan para pelaku koruptor beserta para isteri serta anaknya. Alasan pemerintah China cukup sederhana, bahwa tidak mungkin pelaku koruptor melakukan tindakan tersebut tanpa dorongan dari isteri atau setidaknya isteri mereka mengetahui asal muasal tindak korupsi tersebut tapi tidak melarangnya.

Untunglah, saya belum pernah melakukan penelitian apakah ada pengaruh antara tuntutan isteri terhadap sang suami terkait harta terhadap meningkatkanya para pelaku koruptor di negeri ini. Hingga sampai saat ini, setidaknya saya masih cukup yakin, bahwa perempuan-perempuan Indonesia masih banyak yang seperti perempuan Arab dalam kisah di atas. Masih banyak perempuan Indonesia yang rela lapar demi menghindarkan keluarga mereka dari rejeki haram yang dibawa sang suami. Saya juga yakin bahwa masih banyak perempuan di Indonesia yang tidak cepat panik dan gelap mata melihat kondisi ekonomi keluarga mereka  hingga akhirnya “merelakan” suami mereka mencari harta yang haram.

Menyelamatkan Indonesia dari prilaku korup tentu bisa dilakukan oleh perempuan Indonesia dimanapun berada. So, wahai perempuan Indonesia, tunggu apa lagi?..!!! Selamatkanlah suami dan keluarga Anda dari prilaku korupsi..!!