Saya cukup terkesima dengan gebrakan menteri kelautan kabinet kerja Jokiwi. Siapa lagi kalau bukan Ibu Susi sang pemilik maskapai Susi Air yang cukup terkenal itu. Sosok ibu yang sempat diragukan kemampuannya ini, mulai menunjukkan “taring”nya dengan terobosoan baru yang membuat kita terkadang berdetak kagum. Kendati penggunaan istilah “terobosan” saya kira tidak terlalu tepat karena sebenarnya tindakan yang dilakukan Bu Susi bisa saja dilakukan oleh menteri-menteri sebelumnya. Saya tentu juga tidak ingin mengevaluasi menteri kabinet sebelumnya karena tentu masing-masing menteri memiliki pemikiran terhadap kebijakan yang dipilihnya.
Saya juga kurang setuju apabila gebrakan menteri-menteri Jokowi langsung dianggap pencitraan. Kebaikan dan gebrakan positif justru harus sesering mungkin “dicitrakan”. Tujuannya untuk menginspirasi, menulari orang dengan tindakan yang sama-sama positif, bukan.?. Cukup lama pejabat negeri justru sering dicitrakan negatif, kenapa pula harus resah dengan citra positif..:)
Kembali ke Ibu Susi. Gebrakannya unik. Simpel dan mengejutkan kita. Betapa tidak, laporan dari beliau menyatakan bahwa pemasukan dari kapal-kapal besar selama ini hanya memberikan 300 milyar setiap tahunnya kepada negara padahal biaya subsidi minyak ke mereka lebih dari 11 trilyun lebih. Saya sampai mengedap-ngedipkan mata apakah saya tidak salah baca..?. Ternyata tidak. Angka 11 trilyun berbanding 300 milyar membuat jiwa patriotisme kita seakan mau meledak. Kalaulah kenyataan ini benar, maka layak dipertanyakan kepada kita siapakah yang begitu bodohnya mengeluarkan kebijkan itu, atau siapakah yang begitu pintarnya membodohi pembuat kebijakan sehingga mereka bisa menggeruk keuntungan laut kita tanpa ada yang merasa bersalah dan tertipu..?.
Bu Susi juga menyatakan bahwa selama ini nelayan kita banyak dimarjinalkan. Dipungut pajak yang tinggi sampai pungli. Investasi di sector kelautan memakan cost sampai 40% dengan lembaran kertas sampai 600 ribu lembar. Makanya, banyak investor luar lebih memilih melakukan illegal fishing ketimbang melakukan investasi di negeri ini. Kondisi berbeda terjadi di Malaysia yang hanya menggenakan 3% untuk investor. Lagi-lagi Malaysia lebih maju dalam kebijakan kelautan.
Saya hanya berdoa, bahwa data itu salah. Saya berdoa bahwa angka 11 trilyun itu tidak benar adanya. Saya berharap data-data yang disampaikan Ibu menteri adalah data-data fiktif saja –kendati kecil kemungkinan Ibu menteri salah memberikan data-.
Negeri ini sangat kaya. Laut, tanah dan udaranya berkelimpahan. In abundant. Lagu tongkat jadi tumbuhan itu bukan cerita dongeng. Namun, kalau sumber alam yang melimpah “belum” memberikan kemakmuran kepada setiap individu negeri ini tentu ada yang salah dalam manajemennya. Kita harus intropeksi diri. Kesalahan itu pada kita semua baik kesalahan pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan atau bahkan masyarakat sendiri yang terlalu mudah menjatuhkan pilihan hanya karena iming-iming uang kertas berwarna merah atau biri itu.
Sosok Ibu Susi menyadarkan kita. Sekaligus menohok dahi kita. Banyak yang underestimate dari sisi pendidikannya. Latar belakang kehidupannya, dll. Sudahlah, kita harus realistis. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang mau. Bukan orang yang memiliki seabrek kemamampuan dan segudang keahlian, namun ia tidak memiliki kemauan untuk mensejahterakan orang lain. Yah, kata kuncinya adalah kemauan, pengorbanan dan patriotisme.
Saya kira, kemajuan sebuah organisasi termasuk juga negara terletak pada seberapa banyak orang-orang tulus yang mau berbuat. Apalagi kalau mereka adalah orang-orang yang memiliki kapabilitas dari sisi finansial dan koneksi. Seperti Ibu Susi ini. Saya yakin, orang seperti Ibu Susi ini banyak di kabinet Jokowi dan di negeri ini. Kita dengan senang hati menunggu gebrakan mereka.
Saya berdoa, supaya tidak tidak banyak orang-orang bodoh yang pura-pura pintar dan suka mengkadali dan mengakali orang lain. Saya juga berdoa semoga semakin banyak orang-orang yang peduli dan mau memperbaiki negeri ini. Tentu saja saya berdoa semoga semakin banyak orang-orang yang bertaubat dari kesalahan masa lalunya karena berhasil menggeruk keuntungan di atas penderitaan orang lain.
Namun, alangkah baiknya jika, kita melakukan kerja yang juga berorientasi terobosan baik seperti yang dilakukan kabinet Jokowi khususnya Ibu Susi. Kendati sibuk mengevaluasi kerja-kerja mereka, bukankah hal yang lebih baik jika kita juga melakukan kerja-kerja riil yang berguna baik perbaikan negri ini. Semoga.