Oleh: M. Ridwan

 

Disuatu pagi, tepatnya Senin lalu, saya mengakses situs eramuslim.com. Situs ini termasuk salah satu favorit saya. Biasanya, saya mengaksesnya di pagi hari menjelang berangkat kerja. Namun, hari itu, ada keanehan. Tampilan di browser chromemenyatakan bahwa situs ini telah diblokir oleh Depkominfo. Lengkapnya tertulis “Pelanggan Terhormat, sesuai dengan peraturan perundangan situs tujuan Anda tidak dapat diakses. Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya, silahkan mencoba kembali.” Beberapa kali dicoba, tapi blokir ini tak bergeming. Malam harinya, berbekal harapan yang diberikan Depkominfo untuk mencoba, saya kembali mengakses. Harapannya, mudah-mudahan, para jagoan IT di Depkominfo salah memencet tombol sehingga secara tak sengaja memblokir situs ini. Harapan itu kembali sia-sia. Eramuslim tetap tidak bisa dibuka. Saya hanya terdiam sama seperti membisunya tulisan dari Depkominfo itu. Sampai saat tulisan ini dibuat, situs eramuslim tetap hilang entah kemana. Seperti lenyap ditelan bumi. Saya masih berharap bahwa pengelola eramuslim segera memindahkan alamat situs mereka seperti yang dilakukan situs lain yang segera mengganti alamat dengan dot.id sehingga bisa diakses. Tapi, lagi-lagi harapan saya masih belum terwujud.

 

Entah kenapa, hati saya terasa berkecamuk. What really happened?. Memang, berdasarkan info dari TV, saya akhirnya mengetahui penyebabnya bahwa Depkominfo melakukan ini karena ada surat dari BNPT untuk memblokir beberapa situs yang diduga menyebarkan paham radikalisme dan konten bernuansa provokatif. Tidak hanya eramuslim, tapi beberapa situs Islam yang notabene padat traffic lainnya juga mendapat kesempatan untuk mencicipi blokade ini. (

 

Kembali mengenai eramuslim. Sejujurnya, saya menyukai situs ini karena konten keislamannya terlihat padat. Informasinya juga dikemas apik dan lengkap. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa ketika membaca situs ini kita seperti mendapatkan asupan energi spiritual dan intelektual yang lengkap. Tentunya untuk selalu melihat hidup dalam kacamata tauhid yang kuat. Kendati demikian, saya juga mengakui bahwa ada beberapa artikel atau pemberitaan yang sepenuhnya tidak saya terima secara bulat-bulat. Misalnya, berita-berita dari Timur Tengah terutama tentang konflik-konflik yang melibatkan berbagai faksi. Biasanya, berita seperti ini hanya saya baca sepintas. Artinya, tidak sampai masuk ke relung hati saya, Cukup hanya menjadi bahan pemikiran semata. Alasannya cukup simpel. Saya merasa tidak layak untuk memberikan sebuah penilaian apalagi keberpihakan karena memang saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana karena memang tidak berada di sana. Jadi, ketika situs eramuslim, misalnya, menyajikan berita tentang Daulah Islam, Syiah, Syiria, atau Yaman, maka saya hanya bisa berdoa bahwa jika kejadian di atas benar adanya, maka semoga Allah memberikan bantuan-Nya segera. Saya –mungkin juga pembaca lainnya- bisa saja tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu negara-negara itu kecuali dengan berdoa atau sekedar memberikan sumbangan materi yang tidak seberapa. Saya hanya berdoa mudah-mudahan kekacauan yang terjadi di sana tidak akan terjadi di negeri tercinta ini.

Namun, ketika pemblokiran ini terjadi, harapan saya menjadi sedikit pupus. Apalagi setelah melihat berbagai komentar negatif para netizen terkait pemblokiran ini. Tiba-tiba saja, publik Indonesia terpecah menjadi 2 (dua) kelompok yaitu kelompok yang menolak keras pemblokiran dan kelompok yang mendukung. Saya yakin kelompok yang menolak pastilah akan mengecam pemerintahan Jokowi yang mulai dicurigai tidak berpihak kepada umat Islam. Silahkan baca komentar-komentar mereka di internet. Sedangkan kelompok yang mendukung terlihat memaklumi kekhawatiran BNPT akan menjamurnya radikalisme di Indonesia. Betapa tidak, peristiwa-peristiwa bernuansa radikalisme memang semakin akrab di negeri kita.

Bagi saya, lagi-lagi mencoba untuk tidak berpihak. Indonesia adalah negeri tempat kelahiran kita. Dengan populasi penduduk muslism terbesar di dunia, maka seharusnya kita bisa memainkan peran untuk mendamaikan dunia. Rasanya, agak naïf jika justru kita menjadi korban konflik-konflik yang ada di belahan dunia lain. Tapi, jangan kira bahwa saya tidak tersentuh bahkan terbakar dengan beberapa kezaliman yang ditunjukkan di negeri Timur Tengah. Apalagi jika korbannya adalah anak-anak atau perempuan dan laki-laki sipil yang tidak berdosa. Demikianpun, kita jangan pula terlalu paranoid (ketakutan berlebihan) dengan simbol-simbol bernuansa Timur Tengah seperti jenggot, jilbab, pakaian gamis atau ucapan-ucapan berbahasa Arab yang sering dipakai dalam keseharian kita. Tentu tidak logis dan ngawur jika simbol itu ditakuti karena diidentikkan dengan bom, perang, atau kebencian. Malu dong, orang Indonesia kok penakut.

Makanya, saya lagi-lagi menyalahkan ketidakberdayaan kita untuk menjadi orang Indonesia. Kita terlalu mudah dipengaruhi negara-negara lain. Mudah diadu domba dan ditakut-takuti. Padahal, seharusnya kitalah yang memberikan pengaruh kepada negara-negara lain. Hal ini saya tujukan kepada siapa saja, baik yang merasa tidak nyaman dengan keindonesiaannya atau pihak-pihak yang merasa tidak nyaman dengan kemunculan simbol-simbol Islam sehingga perlu dikhawatirkan.

 

Saya hanya teringat kepada sebuah hadis Nabi bahwa setiap perbuatan itu ditentukan oleh niat pelakunya. Artinya, jika niat seseorang itu adalah demi keridhaan Allah, maka biasanya titik temu akan bisa didapatkan. Artinya, jika Depkominfo dan pengelola situs-situs yang diblokir itu memiliki niat mulia untuk menyelamatkan Indonesia, maka titik temu dan pemecahan masalah atas insiden ini insyallah akan mudah didapatkan. Lagipulan, bangsa ini terkenal dengan asas musyawarah dan keluargaannya. Maka dipastikan win-win solution akan tercapai.

Jadi, ketimbang langsung melakukan pemblokiran, maka saya kira lebih arif jika BNPT terlebih dahulu melakukan klarifikasi atau mendialogkannya dengan ormas atau otoritas keislaman yang representatif  di Indonesia. Saya kira jika ada potensi yang menghancurkan bangsa ini, maka itu bukan hanya masalah BNPT tapi masalah bagi kita semua.

Namun, jika niat untuk kebaikan itu tidak ada, misalkan hanya sekedar untuk “gaya-gaya semata”, merasa paling hebat dan benar, diktator, atau  karena imbalan materi, maka dapat dipastikan kehancuran bangsa ini akan jelas di depan mata karena Tuhan akan meninggalkan bangsa ini. Saatnya semua pihak untuk melakukan intropeksi . Semua harus mengakui kesalahannya.

Namun, saya tidak dapat membayangkan jika pemblokiran ini terus terjadi, maka dampaknya tentu akan besar bagi keberlangsungan bangsa ini. Baik terkait keberlangsungan agama, kemejemukan budaya atau persatuan bangsa ini. Saya takut membayangkan hal tersebut, sehingga kendati situs eramuslim tetap tidak bisa diakses sampai tulisan ini selesai dibuat, maka saya mencoba membesarkan hati dengan mengatakan bahwa pemblokiran ini hanyalah mimpi semata dan tidak benar-benar terjadi. Insyallah, Amin. (