Oleh: M. Ridwan

Hari-hari di minggu ini, saya menjadi akrab dengan istilah “jongos”. Sayangnya, istilah ini lebih dikonotasikan negatif. Tidak tanggung-tanggung, bahkan kesan ini diberikan oleh sebagian orang kepada kepala negara kita yang notabene adalah simbol kehormatan negara. Katanya sih, Presiden sedang tidak berkutik oleh tekanan partai pendukungnya. Silahkan Anda melakukan googling.

Demikianpun, sebelum melanjutkan membaca. Saya nyatakan bahwa tulisan selanjutnya tidak akan menyinggung tentang kisruh politik di negeri ini. Jadi, jangan kecewa. Bagi saya -politik dimanapun berada- termasuk Indonesia, bagaikan seseorang yang mencicipi makanan di sebuah restoran. Awalnya, dia sangat tertarik dengan pajangan makanan di etalase. Begitu menggoda dan membangkitkan selera. Sayangnya, setelah dicicipi, lidah berkata lain. Tidak “maknyus” kata si Bondan. Namun, karena sudah terlanjur makan dan memilih restoran tersebut, maka mau tak mau kocek harus dirogoh untuk membayar. Saya menyebutnya “ikhlas terpaksa”. Mau gimana lagi. Mudah-mudahan nanti ketemu restoran yang lebih sesuai dengan selera.

Saya lebih tertarik membahas tentang istilah “jongos” tadi. Menurut kamus Besar bahasa Indonesia, jongos berarti pembantu laki-laki atau pesuruh. Konon, istilah ini dipopulerkan oleh orang Belanda di Indonesia. Ceritanya, para pemuda saat itu banyak yang melayani para bule Belanda yang gemar mengadakan pesta. Anak-anak muda itu dipanggil dengan kata “jongens” artinya anak muda. Oleh pribumi saat itu istilah ini lebih akrab di telinga dengan kata “jongos”. Jadi, tidak ada konotasi negatif pada awalnya. Namun, entah kenapa, seiring waktu, kata jongos bermetamorfosis menjadi negatif. Akhirnya, jongos diidentikkan dengan seseorang yang berada dalam kelas hina, tidak memiliki kekuasaan, dan seabrek pengertian negatif lainnya bahkan konotasi seorang budak.

Jadi, saat ini, siapapun yang dilabelkan dengan istilah jongos pasti akan sangat terhina. Jangankan presiden. Saya dan Anda pasti sangat marah jika seseorang menyebut kita adalah jongos. Kesannya, gimana, sakitnya tuh di sini.:) Seorang jongos akan dipandang sebagai pribadi terjajah dan di bawah kendali majikan. Menyakitkan bukan,?

Dalam Islam, menghina seseorang itu haram hukumnya. Itu tanda kesombongan. Orang sombong –kendati sebesar debu sekalipun- tidak akan mencicipi bau surga. Artinya, dia akan masuk ke dalam neraka. Lho, kok pembahasan saya sampai ke surga dan neraka?: )

Demikianpun, saya mencoba melebarkan pemahaman kita tentang arti  jongos. Saya lebih tertarik mengkaitkannya dengan independensi kita di ranah ekonomi dan keuangan. Ternyata, jongos bisa kita masukkan ke dalam pengertian lain. Misalkan, rupiah yang saat ini sedang asyik mengikuti dollar. Kemanapun dollar menuju, ke bawah atau ke atas, maka rupiah akan pasrah dan takluk. Rupiah tidak akan bisa mengatakan begini, begitu. Nah, saya kira pembaca setuju mengatakan bahwa rupiah juga bisa dikategorkan jongos bagi dollar, bukan?🙂

Imajinasi kita bisa saja berkembang. Anda tentu akan berpikir bagaimana pula tentang Freeport, Newmont, dan pemilik perusahaan asing yang mencari makan di Indonesia?. Bagaimana pula mengenai kehebatan  kapal-kapal asing yang mengeruk laut kita sehingga kita bisa hanya melongo dan bengong?. Tidakkah bangsa ini telah menjadi bangsa jongos ?:)

Anda jangan terlalu sensitif ya. Tapi, kalau tidak tersinggung, aneh juga. Konon, para penggemar teori konspirasi menyebutkan bahwa saat ini ada skenario besar di dunia untuk terus memperbanyak kelas pekerja atau para jongos. Skenario ini dilancarakan oleh para pemilik modal yang sangat besar di dunia. Struktur yang mereka bangun mengikuti pola piramid, dimana kelas pekerja berada di lapisan paling bawah dan jumlahnya merupakan mayoritas penduduk bumi. Kira-kira 80-90%. Hidup mereka dikendalikan sepenuhnya oleh kelas elit yang berada di puncak piramid. Jumlah kelas elit ini sangat sedikit. Menurut teori ini, kelas pekerja akan terus menjadi hamba atau budak kelas elit. Mereka tidak akan pernah bisa naik ke level yang lebih tinggi. Hidup mereka sepenuhnya berada di genggaman kaum elit. Mengerikan bukan?. Tentu saja bagi yang percaya teori konspirasi ini.

Saya yakin, orang seperti Karl Max terinspirasi dari teori ini. Makanya, dia membagi kelas masyarakat menjadi kelas borjuis dan proletar. Pemilik tanah/ kapital dan kelas pekerja atau buruh. Menurutnya, dikarenakan kelas pekerja tidak akan pernah bisa mencapai tingkatan kelas borjouis, maka sistem ekonomi harus dipermak total. Jangan ada lagi kelas pekerja. Semuanya harus hidup setara di bawah kendali pemerintah. Lahirlah, otoriter dan totaliter.

Robert Kiyosaki juga cukup berhasil mengiring dunia untuk membaca buku Cash Quadrant-nya. Menurutnya, ada 4 (empat) kategori manusia berdasarkan sumber penghasilannya. Ada kelompok pekerja (employer), profesional (self employee), pemilik bisnis (business owner), dan investor. Menurutnya kelas pekerja adalah kelas yang paling rentan dalam penghasilan. Harus diupayakan berbagai cara untuk berpindah kuadran ini.

Kembali ke laptop..

Mentalitas Jongos

Apa yang yang salah dengan istilah jongos?. Tentu saja tidak ada. Jika persepsi kita adalah seorang pekerja yang dengan ikhlas membangun perusahaan bersama para direktur dan rekan kerjanya. Ia rajin dan berkomitmen untuk memberikan kontribusi terhadap masyarakat melalui perusahaan tempat dia bekerja. Ia ikhlas dan tanpa pamrih karena meyakini bahwa pekerjaannya bukanlah sekedar untuk pengabdian kepada perusahaan tapi yang terpenting adalah kepada Tuhan. Saya yakin, kalau ada jongos seperti ini, maka dipastikan akan banyak perusahaan yang meminangnya. Super sekali sih…:)

Adapun yang salah mengenai jongos tidak lain ketika para jongos sering dipersepsikan lemah, bodoh dan bisa seenaknya diintimidasi. Ditakut-takuti atau dikendalikan dengan semena-mena. Tentu saja, fenomena ini jangan sampai terjadi. Seorang jongos atau apapun namanya tetaplah manusia yang mempunyai hati nurani. Tak seorangpun yang berhak merendahkan dirinya.

Kalaupun ada yang perlu diwaspadai,saya kira tidak lain adalah mentalitas jongos. Mentalitas ini berupa sikap tidak merdeka, terbelenggu atau terjajah. Berita buruknya, mentalitas jongos seperti ini ternyata bisa dimiliki siapa saja baik para pekerja, pimpinan, pejabat, wakil rakyat, rakyat atau presiden sekalipun. Syaratnya satu, ia selalu terbelenggu atau tidak merdeka dalam bertindak dan membuat keputusan.

Nah, kembali kepada statemen “jongos” yang lagi marak saat ini. Saya kira seharusnya kita bercermin diri. Melakukan intropeksi atas kesalahan kita. Jangan-jangan, kita semua di negeri ini telah lama melakoni “jongoisme”. Selalu mudah dibawa ke sana kemari sekendak hati oleh pemilik uang, kekuasaan atau kekuatan fisik lainnya. Saya hanya berdoa, mudah-mudahan Presiden, wakil rakyat ataupun partai-partai di negeri ini tidak terkena wabah “jongoisme” ini. Semoga…