Oleh: M Ridwan

Selain istilah jongos. Saya juga  akrab dengan satu kata lain, yakni “gaya-gayaan”. Istilah ini dipopulerkan oleh seorang rekan kerja saya.  Beliau jebolan program doktor Ekonomi Islam dari sebuah perguruan tinggi Islam ternama di Jakarta. Istilah “gaya-gayaan” disampaikannya pabila melihat seseorang yang terlalu banyak bicara tapi tidak banyak berbuat alias NATO (No Action, Talk Only) atau OMDO (omong doang).
Kendati ungkapannya  disampaikan dalam nada guyon dan canda, tapi saya melihat ada sisi lain yang memang harus kita resapi. Ungkapan “gaya-gayaan’ yang disampaikannya kendati  biasanya hanya mengundang senyum dan tawa sejenak, namun ini bisa sarana kita untuk intropeksi. Ungkapan ini bahkan bisa  menjadi bahan untuk melakukan otokritik ketika melihat kondisi negeri ini. Lho, kok bisa ?
Ada ungkapan lain yang mungkin adalah saudara kembar dari kata “gaya-gayaan” yaitu “pencitraan”. Kata ini tentu tidak berafiliasi sama sekali dengan merek kosmetik tertentu yang sering diiklankan di TV. Ungkapan “pencitraan”  biasanya ditujukan kepada pejabat, calon pejabat atau siapa saja yang melakukan berbagai cara untuk menaikkan nilai jual dirinya. Mungkin, mereka ini ingin dianggap hebat, baik hati, kaya, alim, pintar  dan sebagainya.
Banyak tokoh dan pejabat yang muncul dari keberhasilan proses pencitraan ini. Bahkan, terlepas dari pro dan kontra. Katanya sih, Presiden negeri  ini juga merupakan hasil dari proses pencitraan ini. Beliau berhasil dicitrakan sebagai sosok baik, sederhana,  mengayomi, atau jujur oleh berbagai media. Pembaca boleh saja setuju atau tidak.
Kembali kepada  istilah “gaya-gayaan” yang dipopulerkan rekan tadi. Secara pribadi saya sangat setuju dengan beliau terutama ketika kita mengamati carut-marut negeri ini. Kita boleh mengukurnya dari aspek apa saja, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, bahkan agama. Saya ambil contoh, ketika kita didaulat sebagai negara agraris terkemuka di dunia, tapi nyatanya masih tetap terseok-seok melakukan swasembada beras, jagung atau gandum. Tidakkah ini adalah aksi “gaya-gayaan”?.  Mengapa negeri jamrud khatulistiwa ini sangat asyik mengimpor beras dari negeri  jiran, padahal katanya, tongkatpun bisa jadi tanaman?.

Atau, ketika kita didaulat sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, maka apa julukan yang tepat bagi negeri ini ketika fakta menunjukkan bahwa banyak pemimpin negeri ini yang tersangkut korupsi dan kolusi?. Bagaimana pula kita menjawab pertanyaan bangsa lain ketika ternyata, pada tahun 2014 lalu, Indonesia “berhasil” masuk ke dalam 10 besar negara pengakses situs porno terbanyak di dunia?, Apakah kita akan menjawab bahwa inilah konsekuensi kemajuan jaman?

Atau, kita lantas menyalahkan IT kita yang cukup lemah. Buktinya, IT kita masih sulit membedakan mana situs benar-benar berbahaya dan mana yang tidak. Situs dakwah yang nyata-nyata mengajak menjauhi pornografi justru lebih ditakuti sehingga layak diblokir dibandingkan dengan situs porno yang nyata-nyata merangsang kriminalitas seksual di negeri yang katanya, berbudaya ini. Mungkin sebagian besar penduduk negeri ini merasa yakin bahwa konten porno bisa  disaring dengan mudah. Cukup ironis bukan? :)  Nah, semakin banyak alasan yang dibuat. Saya kok semakin setuju dengan rekan tadi bahwa selama ini kita mungkin hanya suka ber-“gaya-gayaan”.🙂
Saya berikan contoh lain, dari persepektif ekonomi. Tingkat konsumsi manusia di Indonesia terbilang cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain apalagi dibandingkan dengan Tiongkok. Dari sumber yang saya baca, disebutkan bahwa satu penyebab kemajuan Tiongkok karena konsumsi mereka lebih  rendah dibandingkan negara lain. Mereka sangat cerdas. Sebagai gantinya, penduduk Tiongkok memperbanyak barang produksi. Apa saja, dari mulai onderdil elektronik, handphone, kapal laut, mobil bahkan  pesawat terbang.
Sebaliknya, penduduk Indonesia lebih bangga dengan prilaku over-konsumtif.  Semua produk negeri lain pasti laku keras di negeri ini. Dari mulai fashion, makanan, kendaraan, dan barang elektronik. Masyarakat kita seolah tidak perduli dengan harganya. Lihat saja berbagai pameran mobil atau barang-barang mewah di kota-kota besar di Indonesia. Dagangan mereka pasti laris manis, ludes bahkan inden.
Sayangnya, banyak konsumsi barang-barang mewah ini dilakukan dengan menggunakan jasa keuangan alias kredit. Hanya sebagian kecil masyarakat yang benar-benar mampu membiayai gaya hidup mereka. Selebihnya, mungkin berpura-pura tajir, atau memaksa diri. Apalagi namanya ini kalau bukan  “gaya-gayaan”?🙂
Dari sisi hiburan. Kita bangga sekali dengan film-film atau sinetron impor. Bahkan, untuk lebih mengembangkan modus “gaya-gayaan” ini kita bersusah payah mengimpor para artisnya juga. Wajah-wajah asli pribumi berkulit gelap mungkin dianggap tidak “bergaya”. Sedangkan, wajah-wajah Indo dan blesteran menjadi ikon yang digandrungi.
Karena terfokus pada fisik yang bisa bergaya, maka kita masa bodoh dengan tingkah polah para selebriti yang menyalahi budaya dan tradisi luhur bangsa ini. Kita menutup mata akan pengaruh buruk yang bakalan menimpa generasi-generasi negeri ini. Tanpa sadar kita menciptakan generasi yang hobinya hanya “gaya-gayaan” semata🙂.
Berdasarkan prinsip ekonomi, untuk mengukur standar kehidupan suatu negara ditentukan oleh kemampuan sebuah negara memperbanyak produksi barang atau jasanya. Silahkan baca buku-buku ekonomi. Maka, tidak heran, jika standar hidup negara kita masih dianggap rendah karena penyebabnya, ya itu tadi, kemampuan produksi kita masih sangat rendah.
Belum lagi jika kita berbicara tentang kemampuan memberikan nilai tambah (added value) pada sebuah produk.  Kita pasti akan semakin terjerembab, jatuh. Kita ketahuan lebih asyik menjual bahan mentah dan kemudian mengimpornya kembali. Seolah, produksi orang lain jauh lebih bagus ketimbang produksi dalam negeri. Saya kok jadi teringat dengan mobil Esemka-nya pelajar Solo, lho..🙂
Makanya, saya tidak merasa heran ketika meyaksikan sebagian besar masyarakat kita lebih mementingkan penampilan ketimbang “isi”.  Saya pernah bertemu seorang  laki-laki. Katanya, sedang kesulitan ekonomi. Anehnya,dia masih terlihat nyaman dengan rokok yang di bibirnya serta gadget mahal di tangannya. Penampilan yang cukup aneh dari seorang yang sedang kesulitan keuangan.
Sepupu saya yang pernah tinggal di Jepang, bercerita bahwa ia sering melihat CEO perusahaan multinasional di Jepang masih nyaman menggunakan handphone jadul. Kenyataan ini berbeda  360 derajat dengan di Indoneia. So, jika sekelas CEO Jepang saja masih rela dengan handphone jadul, lalu apa sebutan yang layak buat laki-laki yang katanya mengalami kesulitan ekonomi tadi tapi ia memiliki smartphone keluaran terbaru?. Bukankah ini sebuah “gaya-gayaan” juga?🙂
Alhasil, saya merasa harus berterima kasih kepada rekan tadi. Ungkapan “gaya-gaya” tadi benar adanya. Bahkan, saya terkadang khawatir. Jangan-jangan, tulisan ini juga hasil dari “gaya-gayaan” juga.🙂